Oleh: Supriyanto Liwa | 21 September 2018

Gerakan Pramuka di Era Industri 4.0

Gerakan pramuka adalah gerakan mulia. Mari kita hayati lagi, isi dari tri satya dan dasa darma. Jangan hanya kagum dengan isi dan dalamnya makna yang terkandung disitu. Coba bayangkan sosok-sosok para pendiri Pramuka, bagaimana mereka berfikir saat itu? Cakrawala mereka jauh ke masa yang akan datang. Masa datang itu adalah kini (era milenial), saat hati kita mengatakan bahwa nilai pemikiran itu sangat luhur tapi kita sulit sekali mengamalkannya. Kita tetap fasih dan hafal nilai-nilai itu, tapi kita dalam hati kita bergulat fikiran bahwa ini adalah nilai yang tak mungkin bisa diamalkan, setidaknya dalam kondisi saat ini.

2229534885_806e522336_z

Namun demikian, kita sudah memilih Gerakan Pramuka sebagai organisasi di IPB. Maka jalan panjang menjadi anggota organisasi yang sudah tua di era milenial ini harus kita jalani. Biasanya ekspektasi mahasiswa baru saat masuk organisasi kampus adalah apa yang bisa saya terima dari organisasi ini. Ternyata saat anda memasuki organisasi semua 360 derajat kondisinya. Alih-alih ingin mendapat pelayanan malah kita diminta untuk memikirkan organisasi agar jalan, menyambut estafet kepemimpinan organisasi, mensinergikan sumberdaya manusia dan waktu, mengelola konflik, serta memikirkan visi dan misi pengembangan organisasi kedepan.

Itulah sedikit gambaran kondisi saat kalian memilih organisasi mahasiswa termasuk Gerakan Pramuka di Kampus. Tentu kita sebagai anggota gerakan pramuka harus siap untuk bersungguh-sungguh:

  • Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan pancasila
  • Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat.
  • Menepati Dasa dharma.

Terlebih saat ini kita berada di era Industri 4.0 menuju Smart Society 5.0 seperti sekarang ini, tentu kita akan menghadapi tantangan yang tidak mudah. Namun, saya yang pernah merasakan ditempa di gerakan pramuka sampai di IPB merasakan banyak manfaat dari apa yang saya hadapi. Apa yang kita hadapi di organisasi secara singkat seperti yang saya jelaskan di atas.

Lalu, apa saran saya untuk adik-adik menjalankan organisasi di era ini?

Pertama, Jadi Organisasi 4.0

Lihatlah keluar, banyak organisasi yang berubah dari organisasi konvensional menjadi organisasi yang berbasis ICT. Saat ini ada media youtube, facebook, instagram dan berbagai media lain. Manfaatkan media itu dengan kontent-kontent yang menarik dan bagus. Biasanya orang berfikir kalau kita harus orang IT atau ilmu komputer baru bisa memanfaatkan ini. Anda salah, justru content creator itu biasanya hadir dari bidang-bidang keilmuan yang berbeda. Tentu sinergi antar anggota di organisasi juga diperlukan.

Kedua, Turun Lapang

Setelah konten anda bangun, masuklah ke lapangan. Perkenalkan konten anda kepada khalayak ramai. Tentu segmen gerakan pramuka sangat luas bisa di segmentasi berdasarkan usia: penggalang, penegak dan pandega. Selain menyasar audiens pramuka, coba sasar juga audien masyarakat. Kombinasikan juga dengan poin satu untuk memperkaya konten kalian tadi.

Ketiga, Kerjasama

Era industri 4.0 menuntut kita menjadi Smart Society 5.0. Sederhanya kita harus menjadi masyarakat yang cerdas yang mampu bersinergi dengan orang-orang disekitar kita. Tidak hanya individu, tapi juga organisasi.

Sebagai contoh pengalaman, saat saya diminta menjadi penanggung jawab pameran kontingen IPB untuk pameran di Jambore Nasional. Waktu itu Pramuka IPB tidak punya slot dana ataupun akses untuk bisa ikut pameran. Pertama, tim menelepon atau menghubungi panitia untuk bisa memberikan stand gratis atau diskon kepada Pramuka IPB. Areanya, area komersial tidak masalah tapi setelah di survey ternyata tidak bagus.

Akhirnya kami cari akal, dana tak ada slot tidak ada. Akhirnya saya datangi ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kab. Bogor, waktu itu masih kak Engkus Sutisna. Saya tawarkan kepada beliau bahwa Pramuka IPB siap menjadi PJ pameran dari Kwarcab dengan membawa konsep yang sudah kami tata. Intinya 50 % isinya promosi Kwarcab dan 50% IPB. Walaupun, kontent yang kwarcab juga beririsan dengan scope IPB. Jadilah beliau memberikan dana segar sebesar Rp, 6.000.000 waktu itu. Dana itu bisa digunakan untuk menyewa truk dan modal awal. Untuk mengisi stand, tentu akan sulit dengan dana kami sendiri. Akhirnya tim berkeliling untuk menawarkan kerjasama, dengan dibayar dibelakang. Beberapa barang kami beli sendiri agar bisa mendapatkan profit. Pamerannya pun sukses dan kami bisa mengambil pengalaman dari situ.

Keempat, Tetap Rendah Hati

Walaupun kita memiliki banyak pengalaman mengorganisasi kegiatan atau prestasi tidak perlu sombong. Sikap ini diperlukan di era sekarang, dimana semua dinamis. Kita harus siap berubah dalam kondisi apapun dan tetap survive.

Penutup

Kesimpulannya, jadilah kreatif dan jangan batasi pemikiran kalian hanya pada kondisi saat ini saja. Tapi cobalah berfikir investasi melalui aktif di kegiatan kepramukaan ini, adalah investasi masa depan bagi anda. Tentu, nilai manfaat yang bisa diperoleh saat ini juga tak kalah penting walaupun sifatnya biasanya non materiil. Tetap semangat dan meminta pertolongan Allah SWT untuk setiap agenda kegiatan yang ada. Jangan hanya fokus pada berapa dana yang diperlukan dan bagaimana cara mendapatkannya? Tapi fokus pada apa manfaat dari suatu kegiatan kalau perlu tanpa mengeluarkan dana dengan mealakukan sinergi dan kerjasama dengan banyak pihak. Industri 4.0 dan smart society 5.0 memaksa kita untuk bisa lebih terbuka dan terus smart dalam kolaborasi.

Tsukuba, 21 September 2018
Supriyanto, S.Tp, M.Kom
Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem IPB
Mahasiswa Doktor Life and Environmental Sciences, University of Tsukuba
Pembina Pramuka IPB

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: