Oleh: Supriyanto Liwa | 9 September 2018

Menjadi Akademia Produktif

Hari ini melalui PPI Ibaraki saya dan teman-teman di Tsukuba mendapatkan pengalaman yang cukup berharga dari Prof. Muhammad Aziz yang merupakan Associate Profesor di Advanced Energy System for Sustainability Center, Tokyo Institute of Technology.

Beliau banyak bercerita pengalaman menjadi akademia di Jepang. Sebelum jadi seorang dosen beliau juga pernah bekerja di perusahaan swasta. Selanjutnya, beliau banyak bercerita kisah menjadi akademia. Akademia sendiri adalah istilah umum untuk semua elemen dalam pendidikan tinggi dan penelitian akademik. Akademia sendiri bisa Dosen, Postdoctoral, Peneliti ataupun mahasiswa Doktor dan master.

41316520_10217388214685994_5974288590929133568_n

Kita perlu bersepakat dulu mengenai ukuran keberhasilan dari seorang akademia? Saya kira secara internasional sepakat bahwa kontribusi seseorang terhadap ilmu pengetahuan. Alat ukurnya biasanya dilihat dari seberapa produktif seseorang dalam publikasi internasional. Prof Aziz yang menjadi pemateri kali ini sangatlah produktif menulis publikasi ilmiah menurut saya karena sampai saat ini sudah mempublikasikan 80 paper, 30 paper diantaranya sebagai penulis utama. Paling tidak dari ukuran profesor di Indonesia.

Publikasi sendiri setidaknya dapat dikategorikan menjadi beberapa kategori:

  1. Full/original article
    Jenis paper ini biasanya adalah hasil penelitian yang memiliki nilai originalitas tinggi. Tidak hanya hasil experiment, tapi si penulis harus mampu menunjukkan originalitas dari paper yang dibuat.
  2. Letter (Short communication)
    – Isinya adalah hasil cepat dan komunikasi awal kepada masyarakat.
    – Biasanya lebih singkat dari full paper (4 sampai 6 halaman)
  3. Review Paper 
    – Summarize recent developments
    – Not the place introduces new information
    – Often invited
  4. Technical note
    – Experiment dengan novelty yang agak rendah.
    – Technical method
  5. Conference Paper 
    – Biasanya untuk disseminasi

Bagi seorang dosen, tentu kinerjanya selain dari banyaknya paper juga ditentukan oleh seberapa banyak sumberdaya manusia yang berhasil dididik. Tentu, tidak hanya bidang penelitian tapi juga mempersiapkan si-mahasiswa agar diterima di bidang profesional.

Saya yang saat ini sebagai mahasiswa Ph.D tentu bisa mengambil banyak pelajaran dari apa yang disampaikan beliau. Mulai dari bagaimana kita harus terus bergerak untuk menghasilkan karya ilmiah dan juga mempertahankan ritme kita sebagai akademia. Tentu ritme ini berkaitan dengan stamina, jangan sampai stamina kita turun di tengah-tengah sehingga membuat kita tidak produktif.

Selain itu, setelah kembali ke Indonesia jaringlah kerjasama dengan pihak-pihak luar yang selama ini sudah anda kenal. Hal ini juga bagian dari menjaga semangat sebagai akademia. Secara jujur Indonesia masih jauh tertinggal dari bangsa lain. Namun, ini justru menjadikan kita harus terus bersemangat dan bekerja keras untuk mengejarnya.

Salam,
Supriyanto
Tsukuba 09 September 2018

 

 

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: