Oleh: Supriyanto Liwa | 22 April 2018

Dunia Dosen

Beberapa tahun terakhir saya terlibat di dunia belajar mengajar pada strata 1, permasalahan yang sering dihadapi program studi di Universitas Swasta dan beberapa Universitas negeri adalah kurangnya sumberdaya bergelar Master. Kemudian muncul peraturan DIKTI yang mensyaratkan dosen harus bergelar S2.

Maka banyak dosen yang berbondong-bondong melanjutkan ke Jenjang S2. Sampai saat ini baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menerima formasi S2. Selanjutnya menjadi tugas dosen ybs untuk mencari beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang S3. Namun tentu karena kompetisi sangat ketat, tidak semua dosen memiliki kesempatan mendapatan beasiswa S3.

Di lain pihak, melalui program LPDP, beasiswa unggulan, dan PMDSU pemerintah menggenjot jumlah WNI yang bergelar Master ataupun Doktor. Belum lagi teman-teman di berbagai negara yang sekolah dengan beasiswa negara tujuan. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kapasitas riset dan kemampuan riset untuk menelurkan output yang baik untuk kemudian kembali ke Indonesia untuk mengembangkan riset.

Sekolah itu ibarat ngambil SIM kendaraan, setelah SIM didapat, selanjutnya mulai mengendari kendaraan. Walaupun skill mengendari mercedes benz type terbaru tapi adanya mobil angkot, akhirnya walaupun terpaksa. Begitulah analogi orang Indonesia yang sekolah S3 dan melakukan riset di advance laboratory dan kembali ke Indonesia dengan fasilitas yang sangat minim. Biasa nyupir mercedez benz terus nyupir angkot, pasti ajrug-ajrugan. he he …

Ini bukan kisah saya, tapi kisah teman2 yang riset di advance sciences.

Beberapa hari kemudian semua netizen kaget saat viral berita tentang DIKTI yang akan impor dosen asing:
https://news.okezone.com/…/mengajar-di-indonesia-dosen-asin…
http://www.republika.co.id/…/p7h34l282-dosen-asing-dan-nasi…
http://republika.co.id/…/p7fa1c428-kemenristekdikti-anggark…

Pemerintah memberikan anggaran yang cukup besar untuk mendatangkan dosen asing itu. Ada beberapa hal yang saya tidak setuju:

  1. Ketidakadilan menilai dosen Indonesia. Output yang selama ini tidak baik disebabkan karena peralatan laboratorium yang banyak usang dan tidak bersaing. Walaupun ada juga dosen yang tidak berkualitas, tapi tidak bisa dipukul rata.
  2. Gaji yang diberikan juga ada gap sangat tinggi, ini membuat kita sebagai orang Indonesia menjadi terus merasa dibawah. Andai nanti datang dosen dari luar dibayar lebih besar dari Profesor yang bereputasi di Indonesia (adil kah?).
  3. Belum dioptimalkannya alumni-alumni dari program beasiswa yang dikeluarkan pemerintah untuk menjadi dosen.

Sehingga sebelum ada impor dosen asing maka ada hal mendesak yang perlu dilakukan:

  1. Perbaikan sarana laboratorium agar bisa mengeluarkan output berstandar Internasional.
  2. Optimalisasi alumni-alumni beasiswa dari pemerintah.
  3. Upgrading kesejahteraan dosen Indonesia agar nantinya bisa mendorong produktivitas.
  4. Membangun advance Laboratory di Universitas-Universitas yang diberi mandat khusus pengembangan keilmuan yang advance dan lintas disiplin. Disini para dosen dan peneliti bertugas membuat output yang baik lintas disiplin. Kita belajar saja dari negara-negara lain seperti apa advance laboratory itu dibangun dan dijalankan untuk mendapatkan output yang mumpuni.

Semoga pengambil kebijakan melihat kembali permasalahan yang ada dan mengambil keputusan yang baik. Kami anak-anak muda yang sedang sekolah di Luar negeri mengharapkan keberpihakan kepada peneliti-peneliti muda untuk kembali berbakti kepada negeri.

Semoga berita ini juga masih dalam bentuk rencana ataupun pemikiran yang masih bisa dirubah dan diarahkan ke arah yang lebih baik dan berkeadilan.

Salam,
Supriyanto
(Mahasiswa PhD University of Tsukba)

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: