Oleh: Supriyanto Liwa | 31 Desember 2017

Tantangan 20 Kedepan

Ketika kita ditanya, apa sih mimpi kita untuk 20 tahun kedepan? Akan ada dua jawaban normatif, mimpi saya ini dan itu tapi juga ada yang menjawab kita lihat saja nanti. Nah, bagi saya ada dua dimensi mimpi (planning) yang pertama adalah dimensi usaha kita sendiri dan ketetapan takdir dari Allah SWT.

Nah, saya punya harapan paling tidak saya akan bagi fase hidup dalam beberapa

Fase 1: Pra Sekolah – 0-6 tahun (1986-1992)

Adalah masa kanak-kanak kita. Jadi masa ini kita akan banyak dipengaruhi oleh lingkungan kita. Kita akan sangat bergantung kepada orangtua kita di rumah dalam segala hal. Mimpi juga masih dipengaruhi oleh pengetahuan orangtua kita. Ada satu nasehat secara eksplisit yang bisa saya dapatkan dari fase ini, yaitu saat kita punya cita-cita maka kita harus kejar itu dengan sangat gigih.

Saat itu, saya lahir di Boyolali 07 Des 1986 tepatnya di Dukuh Sumurwaru, Kelurahan Keyongan, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Kondisi ekonomi kemudian yang memaksa kedua orangtua merantau ke Sumsel (Lahat) dan kemudian berpindah ke Liwa. Sehingga bisa dibilang, fase pertama ini saya banyak habiskan di perantauan berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Masa kecil itu memberikan banyak pengalaman bagi saya, kami tinggal di gubuk kecil di tengah kebun. Untuk pergi ke pasar kami harus berjalan 2 km ke jalan raya dan jalanan waktu itu becek (berlumpur) pada musim hujan. Tentu belum mengenal listrik, jadi yang saya kenal adalah ke kebun bersama dengan orangtua. Sekeliling kamipun tetangga berjauhan, sehingga untuk main ke tempat tetangga juga sangat sulit.

Fase 2: Sekolah Dasar – Usia 6-12 tahun (1992-1998)

MIN 3 Watas, Liwa (1992-1994)

Sampai pada 1992 saya berkesempatan sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Watas. Kami berjalan kaki 2km bersama teman-teman ke sekolah. Tentu, kalau waktu itu ada facebook atau kamera betapa perjalanan kami ke sekolah itu begitu udik alias ndeso.

Pelajaran yang saya bisa petik waktu itu adalah, kami merasa sangat mandiri dan bersyukur. Orangtua juga tak merasa sebagai orang miskin, karena kami punya cita-cita. Tampak sekali betapa orangtua terutama Alm Bapak punya optimisme yang tinggi dan harapan anak-anaknya punya pendidikan yang tinggi. Karena ternyata kemiskinan itu adalah ketika kita miskin motivasi. Karena setiap manusia lahir sudah ada catatan rezekinya masing-masing tinggal kita mau bersyukur dan memanfaatkan dengan maksimal atau tidak.

SDN Keyongan 1, Boyolali (1994-1996)

1994, saat Liwa diguncang oleh gempa membuat rumah dan sekolah kami rusak. Sehingga orangtua mengirim saya ke Boyolali untuk sekolah disana. Keadaan keluarga di Boyolalipun hampir sama dengan keadaan kami di Liwa, kondisi kami yang sangat sederhana itu juga memberikan banyak pelajaran. Saya hanya bertahan antara kelas 2 sampai awal kelas 4 (sekitar tahun 1996) dan pindah lai ke Liwa.

Saat itu saya masih kecil dan merantau meninggalkan jauh dari orangtua merasa sangat tertekan. Kalau mau minta jajan, tentu paman dan bibi yang saya akan minta. Tapi tentu itu tidaklah menyenangkan bagi mereka. Tapi semua itu jadi kenangan indah bagi saya dan tak kan terlupakan bagi saya. Sayapun tak sempat mengingat nama teman-teman sekolah saya di SD Keyongan. Jadi apa mereka sekarang, dan dimana saya juga tidak mengikuti.

SD Negeri 1 Sebarus (1996 – 1998)

 

 

Masuk ke SD sebarus sebagai siswa baru dengan bahasa pergaulan dengan bahasa daerah Lampung membuat saya juga harus berjibaku untuk beradaptasi. Ada seorang teman yang juga orang Umbulioh bernama Misno, banyak menolong saya dalam pergaulan. SD Sebarus ini unik menurut saya, karena sekolah ini pada akhirnya berisi siswa multikultural yaitu warga asli Lampung dan pendatang dari berbagai daerah seperti saya.

Sampai sekarang, kami sesama alumni SD Sebarus masih bersahabat bahkan salah satunya sekarang jadi istri saya. He he …

Fase 3: Sekolah Menengah – Usia 12-18 tahun (1998-2004)

SMP Negeri 1 Liwa (1998 – 2001)

Fase ini juga cukup menarik dalam hidup saya, walaupun saya tidak bisa mengisahkan satu persatu cerita yang saya alami di sekolah ini. Saat lulus SD berbekal NEM dengan urutan kedua di SD Sebarus saya masuk dikelas unggulan (I/6). Kelas kami di pojok dan saya kira tidak ada bedanya dengan kelas lainnya.

Saat yang menarik adalah saya bertemu dengan teman-teman yang cukup pintar dari kawasan Liwa, Lampung Barat. SMP 1 Liwa siswanya berasal dari seputaran Liwa yang siswanya cukup beragam. Karena kami berada di Ibukota Kabupaten maka banyak juga anak-anak pejabat daerah yang sekolah disini. Sampai disekolah ini saya hanya bisa mempertahankan prestasi di urutan kedua atau ketiga umum. Waktu itu ada seoarang teman yang sangat jenius Desabri Eka Putra sebagai saingan terberat kami.

Kondisi di SMP juga masih dalam keadaan yang terbatas, saya harus berjalan kaki ataupun naik sepeda untuk sampai disekolah. Ada hal menarik, karena kebetulan saya menyenangi perpustakaan. Pak Purwana waktu itu adalah ketua perpustakaan sehingga kami diminta untuk menstempel buku yang baru datang. Saking semangatnya stempelnya sampai patah dan pak Purwana pun tidak marah yang kemudian mengganti stempel yang baru.

Cerita lain, akan saya coba ingat-ingat apa saja yang menarik saat SMP di Liwa.

SMA Negeri 1 Liwa (2001-2004)

Fiuh, SMA Negeri 1 Liwa adalah sekolah yang tidak saya inginkan pada awalnya. Saya ingin mengikuti jejak teman seperjuangan Desabri untuk mendaftar ke Bandar Lampung. Saat itu saya sudah mengurus surat pindah rayon, namun Alm Bapak berkonsultasi dengan banyak orang dan menyarankan untuk tetap sekolah di Liwa saja. Mengingat waktu itu banyak sekali kasus kenakalan remaja, narkoba dan berbagai masalah-masalah sosial anak muda. Al hasil sayapun mendaftar di SMA 1 Liwa.

Saat pengumuman saya mencari nama saya, aduuuh saking lugunya saya mencari dari urutan paling bawah wal hasil nama saya tidak ditemukan. Kemudian saya tersenyum karena nama itu ada di posisi paling atas, dengan nilai NEM tertinggi saat masuk sekolah.

Namun, karena bukan sekolah yang saya inginkan tentu di SMA prestasi saya tidaklah terbaik. Walaupun masuk dengan NEM terbaik tidak menjadikan saya kemudian jadi siswa terbaik. Terlebih, kekecawaan saya juga sangat dalam saat saya dimasukkan ke kelas I/6. Tahukah teman-teman kelas I/6 itu ada di pojokan dan guru juga sering tidak masuk ke kelas kami terutama di jam-jam terakhir. Kemudian, dibelakang kelas kami ada lubang kecil tempat anak-anak membolos.

Ha ha… apa saya ikut membolos lewat belakang. Tentu tidak, saya menggunakan akal saya kalau ingin membolos saya suruh teman-teman pulang duluan karena saya ketua kelas dan tau kalau guru di jam terakhir tidak ada. Saat semua tugas sudah kami kerjakan, sayapun membawa tugas itu ke ruang guru dan melenggang pulang melalui pintu depan. Nakal banget ya, kamu bisa bayangin betapa tidak disiplinnya saya waktu itu.

Namun, saat Alm Drs Suyitno menjabat sebagai kepala sekolah semua berubah. Sudah sangat jarang ditemui kelas yang tidak ada gurunya. Saat itupun saya sudah naik ke kelas dua dan masuk kelas unggulan. Haduuh legaa rasanya, he he .. kenapa lega karena kita bisa mengukur kemampuan lawan kita. Saat itu ada seorang teman yang on fire alias sangat menonjol dan rajin yaitu Agus Riawan. Sehingga dialah musuh yang berat buat saya. Presatasi sayapun tidaklah menonjol saat SMA. Saya sering datang ke kosan Agus hanya untuk sekedar melihat apa yang dia pelajari, karena tipe belajar saya adalah tipe belajar dikelas. Sangat jarang saya mengulang pelajaran dirumah. Bandel banget ya? he he …

Saat kelas 3 saya mengambil IPA, dan takdir Allah saya bisa mengikuti program PMKA ke Institut Pertanian Bogor. Pilihan pertama saya Ilmu Komputer dan Kedua adalah Teknik Pertanian. Kenapa pilih itu, ya supaya keliatan keren aja karena saya juga tidak tau isinya teknik pertanian itu apa dan sayapun masuk di Departemen (jurusan) ini.

Fase 4: Perguruan Tinggi

Fase ini adalah fase yang paling signifikan dalam merubah hidup kita. Pada tahapan ini, saya melalui proses lulus dari S1 dan kemudian melanjutkan ke program S2 di Ilmu Komputer IPB. Selanjutnya perjalanan menjadi dosen di Universitas Pakuan, Bogor dan Menjadi dosen di Teknik Mesin dan Biosistem atau Teknik Pertanian dan Biosistem, Institut Pertanian Bogor. Pada fase ini pula saya menemukan teman hidup saya (Iin Fadhilah) sebagai istri dan lahir anak kami (Syafira Tifania Azizah) sebagai putri pertama kami. Menginjak tahun 2016, saat usia saya mendekati 30 tahun aya diberikan kesempatan belajar di University of Tsukuba, Japan. .

Fase 4: 30-40 tahun (2016-2026) Planning.

Fase ini akan saya habiskan dalam dua tahapan utama, yang pertama adalah menyelesaikan studi sampai dengan tahun 2019.

Selanjutnya tahun 2019, akan saya mulai dengan sinergi bersama dengan teman-teman dalam mengembangkan riset multidisiplin:
Information Technology Application (ICT) on Food, Energy, and Bioresources

Kenapa food dan energy? Karena dua hal ini sangat diperlukan sampai dunia ini berakhir. Kita akan membutuhkan pangan seiring dengan perkembangan populasi manusia dan membutuhkan energi untuk mendukung berbagai kehidupan. ICT merujuk pada pemanfaatan komputer, sistem informasi, dan berbagai resources IT yang kemajuannya tidak bisa dielakkan saat ini. Nah, dengan mengawinkan antara perkembangan teknologi ICT dengan perkembangan teknologi penyediaan pangan dan energi tentu kita akan menjadi semakin kuat.

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: