Oleh: Supriyanto Liwa | 11 September 2017

Dibalik Lelahnya Seorang Guru

Tidak banyak yang tahu betapa lelahnya seorang guru, yang banyak disembunyikan dari murid-muridnya. Guru yang dalam kepanjangan bebasnya digugu dan ditiru. Seorang guru tentu juga manusia biasa, tapi mereka mendedikasikan sebagian hidupnya untuk memberikan ilmu kepada murid-muridnya. Selain itu, mereka juga mendedikasikan hidupnya untuk menjadi panutan. Itu yang kemudian menjaga mereka dari berbuat yang tidak sepatutnya.

10399388_1192787508509_1742116_n

Harapan mereka sederhana, melihat kesuksesan murid-muridnya. Bahkan sebagian mereka tak ingin melihatnya sebagai hasil dari usaha mereka, hanya ingin mengajar dan memperoleh berkah dari pekerjaan mereka. Guru juga selalu bermunajat, agar ilmu yang mereka sampaikan menjadi keberkahan bagi murid-muridnya.

Bagi saya, guru itu melekat pada kehidupan kita. Saat kecil, guru yang selalu mengajari kita dengan sabar adalah Bapak/Ayah dan Ibu/Bunda kita. Mereka sangat sabar mengajarkan banyak hal. Sampai pada saat mereka menitipkan kita pada guru sekolah dan guru ngaji.

Bagi kita yang muslim lintas generasi, maka guru ngaji memberikan banyak warna dalam hidup kita. Mulai dari mengenalkan membaca Al Qur`an, mengenalkan bagaimana caranya beribadah, mengajari arti keimanan dan banyak hal yang sampai tua masih kita pakai.

Selain itu, pada jalur formal kita akan sekolah dari SD, SMP, SMA, S1, S2 bahkan sampai S3. Berapa banyak guru yang telah mengajarkan kita banyak hal. Sosok guru tidak akan lepas dari keberhasilan kita dimanapun. Ya, guru bagaikan oase. Guru memberikan bekal untuk memecahkan masalah dan menggali banyak ide dan potensi.

Tentu sebagai murid, saya tak mampu melihat satu-satu bagaimana guru berjuang. Tapi dari beberapa guru yang saya kenal dekat: mereka mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Saya ingat, Alm kepala sekolah saya saat SMA, beliau sering saya temui pulang tengah malam dari sekolah. Saat itu, saya tidak mengerti apa yang beliau kerjakan. Tapi saya sangat yakin beliau sangat kuat mendedikasikan hidupnya sebagai guru sejati. Beliau kini telah menghadap Allah, semoga Allah menerima amal-amal beliau dan memetik hasil dari buah dedikasi beliau.

Ada juga, seorang guru matematika di SMA dengan sukarela mendedikasikan waktu malamnya untuk mengulang pelajaran. Bahkan beliau membelikan lampu penerangan dari koceknya sendiri.

Beberapa guru yang memaksa saya ikut lomba di suatu event provinsi. Padahal, kalau melihat kemampuan saya merasa tidaklah mampu. Tapi mereka ingin mengajarkan, keberanian. Sekarang tidak juara. Pelajarannya, kita adalah pemenang karena bisa mengalahkan keragu-raguan yang ada dalam diri kita.

Saat kuliah juga demikian, saya bertemu dengan para guru yang sangat baik. Mereka bahkan menganggap saya seperti anak mereka sendiri. Saya merasa jadi punya bapak lagi dan ibu kedua. Mereka selalu hidup mendorong saya. Bahkan terkadang ekspektasi mereka sangat tinggi, mantap dan penuh keyakinan. Tidak lain, hanya ingin memberikan motivasi kepada muridnya yang tidak ada apa-apanya ini.

Banyak kisah romantisme antara saya sebagai murid dengan guru. Romantisme disini bukan perkara hubungan baik biasa, tapi hubungan penuntut ilmu dengan sumber ilmu. Khazanah ilmu ini memberikan banyak kebahagiaan bagi saya dan keluarga.

Terima kasih para guru. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada guru-guru kami (orang tua – guru SD – guru SMA – Kuliah dan banyak guru kehidupan lain).

Suatu saat, saya ingin duduk di depan kalian kembali. Mendengar wejangan-wejangan ringan yang penuh makna, menggali banyak ilmu.

 

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: