Oleh: Supriyanto Liwa | 30 Januari 2017

Cerpen Fiksi: Jalan Cinta Mendaki Gunung Seminung

Teman-teman perkenalkan namaku Deba, aku dilahirkan di Liwa Lampung Barat. Saat ini aku duduk di Kelas 2 SMA Negeri 1 Liwa. Ya, hari itu tampak cerah saat kami rombongan Pramuka SMA Negeri 1 Liwa, Lampung Barat menuju ke Kotabatu. Kotabatu adalah daerah yang berada di OKU Selatan yang berbatasan dengan Lampung Barat. Gunung Seminung adalah gunung yang terletak di antara Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, dan Kecamatan Ranau Provinsi Sumatera Selatan. Sama seperti Gunung Merapi, gunung ini merupakan “gunung antar-provinsi”. Gunung ini berada di sebelah barat laut dari Kota Liwa dengan jarak sekitar 25 km. Kaki gunung ini berada di sebuah danau, yaitu Danau Ranau, yang juga merupakan sebuah “danau antar propinsi”. Gunung Seminung ini dipercaya oleh keturunan lampung dan komering (serta suku daya dan sebagian bengkulu selatan) merupakan asal daerah nenek moyang mereka berasal.

Seperti biasa sebagai anak Pramuka kamipun menaiki mobil L300 yang kami sewa. Kebetulan seoarang teman kami Wulan memiliki saudara yang punya kendaraan ini. Kami pun berkumpul di pelataran SMA 1 Liwa. Siang itu dibuka oleh Ibu Kepala Sekolah kami, melepas keberangkatan kami ke untuk menjelajah dan mendaki gunung seminung. Pak Jakfar yang merupakan pembina pramuka dan Bu Yani akan ikut mendampingi kami mendaki. Sebagai anggota pramuka kami biasa memanggil guru kami Kak Jakfar dan Kak Yani.

Ya, Bu kepala sekolah melepas Kak Jakfar dan Kak Yani. Pada sambutannya ibu Kepala sekolah menyampaikan amanat agar anggota pramuka mengamalkan dasadarma terutama cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Melalui pendakian ini, anggota pramuka diharapkan dapat mempelajari keanegaragaman hayati sembari saling menolong mengingat pendakian gunung membutuhkan kekompakan. Kami pun berdoa dan kemudian bersiap menaiki mobil bak terbuka. Suasana tampak ceria, semua peserta begitu senang mengikuti kegiatan pramuka kali ini. Kak Jakfar dan Kak Yani ikut juga menaiki mobil bersama kami. Seperti tak ada jarak antara kami dan Kakak pembina pramuka. Ya, inilah yang membuat kegiatan pramuka di SMA kami adalah ekstrakurikuler yang sangat digemari oleh siswa.

Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali … tampak nyanyian kami diperjalanan .. Kak Auzi dan Kak Dewi yang merupakan ketua pramuka putera kami sembari perjalanan tak henti-hentinya memimimpin kami bernyanyi. Sesekali kak Auzi bercerita hal-hal lucu saat pertama kali dia ikut kegiatan pramuka di SMA. Waktu pelantikan menjadi penegak Laksana pernah mendapat tantangan dari senior. Waktu itu malam, kak Auzi dan teman-teman mendapat pendidikan akhir untuk menjadi Penegak Laksana. Untuk menjadi penegak laksana syaratnya adalah memiliki binaan di pangkalan penggalang atau siaga. Kak Auzi waktu itu mebina SD Negeri 1 Liwa, dan Kak Dewi membina di SD Negeri 1 Way Mengaku bersama dengan teman-teman lainnya. Ya itulah yang harus dilakukan oleh calon penegak Laksana. Saya sendiri membina SD Padang Cahya bersama dengan Kak Gum. Kak Auzie bercerita dengan gayanya yang bersemangat kepada kami. Sesekali kamipun tertawa karena kak Auzi lucu sekali dalam bercerita dengan logat Bataknya.

Tak terasa kami hampir sampai di Kotabatu. Horee…

Sesampainya di Kotabatu, kami mampir terlebih dahulu di Rumah pak Karni. Pak Karni adalah guru Olahraga kami. Tralala-saat yang ditunggu tiba, kami menyeberang ke air panas. Ya, kami harus menyeberang danau ranau ini. Banyak cerita legenda lokal mengenai asal usul dari danau ranau ini. Namun, kami sebagai anak muda hanya punya keyakinan dan minta tolong saja kepada Allah. Sampailah kami dipelabuhan air panas. Waktu itu sudah siang, kamipun makan nasi bungkus yang kami bawa dari rumah kami. Kami baru akan mendirikan tenda setelah melaksanakan solat Dzuhur. Kali ini kami makan bersama sambil bercanda. Setelah makan saya dan teman-teman mempersiapkan tenda untuk kami menginap nanti malam. Ya, jam 03.30 sore tenda berhasil kami dirikan. Akhirnya kamipun nyebur ke air panas untuk mandi sore dan menikmati mandi. Tidak lama, karena kami harus sholat asyar. Sore itu, solat asyar kami lakukan secara bermamaah dipimpin oleh Kak Jakfar. Ya, semua melaksanakan solat berjamaah kecuali ada teman kami si Teodorus yang memang dia beragama kristen.

Ya, agenda kami sore ini adalah penjelasan teknis pendakian besok dan api unggun. Akhirnya kelompok kami bagi dua, waktu itu kami berjumlah 22 orang putera dan puteri termasuk kak Jakfar dan Kak Yani. Ya, tim pertama mencari bahan untuk api unggun malam ini dan sebagian lagi mempersiapkan persiapan peralatan untuk pendakian besok. Kami ditemani oleh orang lokal yang kami jadikan sebagai penunjuk jalan yaitu Pak Badri. Pak Badri sudah tinggal di Kotabatu sejak kecil, beliau sangat mengenal alam gunung seminung ini. Sore itu tampak indah, cahaya sore yang indah seperti emas. Benarlah lagu lampung yang selama ini kami dengar :

“Seminung dikala dibi, cahyani kuning gegoh emas
Gunung seminung disore hari cahayanya seperti emas.

Api unggunpun dimulai, setelah kami melaksanakan solat magrib, makan malam bersama dan sholat isya berjamaah. Shalat isya kali ini yang bertindak sebagai imam adalah Kak Agus. Kak Agus ini adalah seorang qiro’ di sekolah kami. Bacaannya yang merdu, membuat kami semua tampak khusuk. Kami sholat di dramaga, tempatnya lumayan luas cukup untuk menampung 21 orang, karena Kak Teodorus tidak ikut. Bacaannya syahdu memcah kesunyian danau, diremang-remang malam hanya bercahayakan obor di sisi kanan dan kiri kami. Suasana malam itu sepi sekali dan semilir angin berhenmbus dari tengah danau. Syahdu lah pokoknya, susana malam itu.

Upacara api unggun malam ini dilaksanakan dengan sederhana. Kak Jakfar dan Kak Yani, memberikan wejangan kepada kami dan bercerita pengalaman mereka mengikuti kegiatan pramuka dari siaga sampai di Perguruan tinggi. Kak Jakfar dan Kak Yani, kompak meberi nasehat agar adik-adik pramuka SMA 1 Liwa dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Ya, aku sebagai anak kelas 2 tentulah bersemangat. Dalam hatiku, aku akan sekolah sampai sekolah tertinggi (yang kutau sekolah paling tinggi itu S3). Kak Auzi dan Kak Dewi juga memberikan nasehat ke kami. Kak Auzie yang bercita-cita menjadi lawyer ini bercerita dengan semangat mengenai cita-citanya dan apa yang sudah dilakukannya. Memang kak Auzi ini sosok yang luar biasa menurut saya.

Tralala..

Allahu akbar – Allahu akbar …
Terdengar sayup-sayup adzan yang dikumandangkan oleh Kak Deni. Sayapun bangun dan langsung mengambil wudhu dengan air danau. Ya, dengan bersemangat kami melaksanakan sholat subu secara berjamaah. Aduuh.. indah sekali ikut kegiatan pramuka, selalu “Taqwa kepada Tuhan YME“. Kami amalkan pagi ini. Ya, setelah salat subuh, yang tidak dapat jatah piket masak berolahraga yang dipimpin oleh Kak Yani. Kak yani memimpin pemanasan untuk persiapan kami naik Gunung. Kak Yani juga tak lupa mengecek kelengkapan naik gunung kami. Ya, kami akan berangkat pagi pukul 07 agar kami bisa kembali sore harinya.

Pendakian dimulai, track pertama kami melewati kebun-kebun kopi milik warga. Track pertama ini cukup terjal, ya terjal sekali. Suasana pagi itu alhamdulillah cerah. Kami melewati sepertiga jalan tanpa halangan. Nah, sampailah kami pada ketiggian disana tumbuh tanaman yang tahan dengan suhu dingin. Kelompok pun sudah mulai keleahan. Saya sendiri kram kaki. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu. Waktu menunjukkan pukul 11 siang, kami masih butuh 1 jam lagi untuk sampai ke puncak. Namun sebagian peserta ada yang kram dan ada juga yang kecapean. Akhirnya kamipun minum dan makan siang terlebih dahulu. Kak Auzi mengingatkan untuk menghemat air, karena diatas tidak ada sumber air. Benar saja, jalanan yang terjal dan dingin membuat kami kehausan.

Ya, semua terbayar saat sama-samar terlihat taman Edelwis, tanda kami sudah sampai puncak. Subhanallah, kami sampai puncak gunung seminung. Kak Jakfar dan Kak Yani mengucap syukur karena kami sampai diatas dengan selamat. Kak Jakfar memberikan waktu 2 jam untuk mai menikmati pendangan, sholat dan sekedar foto-foto. Kak Jakfar mengingatkan kami agar tidak memetik bunga edelwis dan tidak meninggalkan sampah apapun di atas gunung. Kamipun menaatinya.

Aku duduk termenung menghadap sisi danau Ranau, betapa indah ciptaan Allah tampak dari atas gunung ini. Bersusah payah kami mendaki kesini untuk mengagumi keagungan Allah. Luar biasa teman-teman. Pengalaman ini tidak pernah aku lupakan. Kak Jakfar, Kak Yani, Ibu kepala Sekolah, Kak Auzi, Pak Badri, Kak Dewi, dan teman-teman yang sudah sama-sama bertahan untuk ikut mendaki gunung ini serta latihan pramuka secara intensif. Sebagai anggota pramuka Penegak Laksana, ini menjadi pengalaman sangat berharga bagi saya. Saat aku melamun dalam bayanganku datang Pak Badri, menghampiriku. Dik, bapak sebagai warga sini bangga dengan kalian. Kalian anggota pramuka mau mengenal alam sekitar kita. Lihatlah, banyak berita diluar sana mengenai kerusakan alam, tapi kami disini menjaga gunung ini. Karena kami tau ini adalah warisan dari nenek moyang kami dan akan diwariskan kepada anak cucu kami. Sambil bercerita itu, pak Badri menepuk pundakku. Dik, bersemangatlah jadi orang besar dan berpendidikan tinggi. Jangan lupa dengan kami, nanti kembalilah kesini. Ya, nasehat itu saya iyakan walaupun saya tidak tau apakah ini kali terakhir saya mendaki ke Gunung seminung ini? Who knows, kita nantikan saja.

Tralala.. jadwal pulang tiba, pukul 14.00 kami harus turun. Susana sudah tampak mendung. Kami bergegas turun. Di tengah perjalananpun turun hujan. Kami terus menerobos agar tidak terlalu sore sampai dibawah. Akhirnya hujan reda saat kami sampai di pos 1, ini adalah pos terakhir sebelum sampai ke air panas. Disini kami melaksanakan solat Asyar terlebih dahulu. Sampai di air panas sore menjelang magrib. Sore ini aku sangat bahagia. Ya, besok kami akan kembali ke Liwa. Rasanya tak ingin meninggalkan tempat kemah ini. Ingin lebih lama, ingin aku bercerita lebih banyak malam ini. Namun, malam sudah larut saat obor terakhir dimatikan kusimpan pulpen dan diary kecil yang berisi tulisan ini.

Menutup tulisan di diaryku aku tuliskan Salam Pramuka. Deba, jadilah pramuka sejati, jadilah pecinta alam sejati, dan jadilah anak yang pintar. Kamu bisa, yakin bisa pasti bisa. Ya inilah jalan cinta menjadi gunung seminung.

Salam.

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: