Oleh: Supriyanto Liwa | 24 Januari 2017

Cerpen – Mutiara dari Pekon Barus

Aku tinggal disebuah desa yang cukup cukup terpencil, jarak dari ibukota provinsi sekitar 229 km. Daerahku ini tidak terjangkau listrik, walaupun kini mayoritas daerah di Indonesia sudah ada listrik. Kampung sukamaju, begitulah orang menyebut daerah yang saya tinggali ini. Mereka memberi nama itu, karena mereka ingin dikemudian hari daerah mereka adalah daerah yang maju. Masyarakat disini umumnya menggantungkan hidup mereka dari pertanian.

Pagi itu, adalah hari pertama sekolah sekolah setelah bagi rapor. Saya duduk di kelas 4 SD dan hari ini saya begitu senang dan bersemangat menuju sekolah. Suasana kampungku sangat cerah, subuh itu seperti biasa terdengar suara adzan yang merdu terdengar dari surau di tengah kampungku. Pagi ini seperti biasa Pak Asep, seorang kakek tua yang adzan, suaranya merdu dan sangat dirindukan oleh masyarakat. Satu persatu warga, termasuk saya keluar dari rumah untuk menunaikan ibadah solat subuh. Ya, dengan menggunakan obor saya berjalan keluar rumah dan bergegas menuju sumur yang ada di belakang rumahku. Lokasi tempat mengambil wudhu berada di bagian luar rumah kami. Rumah kami terbuat dari kayu dan di bagian belakang ada sebuah sumur yang biasa kami gunakan untuk keperluan sehari-hari.

Menembus embun pagi dan gelap satu persatu warga berkumpul di surau. Surau itupun tampak penuh terisi, saya berada di shof kelima karena jarak rumah saya memang cukup jauh, sekitar 1 km. Suara adzan masih terdengar karena warga kampung kami membelinya sound system secara swadaya. Kami menggunakan aki dan mencass nya ke desa sebelah dengan menitipkan kepada among Dam. Among dam memiliki sepeda menuju ke desa sebelah yang jaraknya 2 km dari desa kami. Cukup jauh bukan? Tapi kami bersyukur warga disini bersama-sama membangun desanya.

Yang menjadi imam pagi ini adalah among Pawi beliau adalah seorang imam sekaligus guru ngaji dikampung kami. Seperti biasa ketika mulai takbir semua hening, alunan ayat suci Al Qur’an terdengar merdu. Semua pun khusuk melaksanakan ibadah solat subuh. Setelah shalat subuh, suara jamaah melantunkan dzikir bersama-sama memecah kesunyian pagi. Among Pawi memimpin doa bersama kemudian memberikan tausiah kepada kami. Pagi ini among Pawi memberikan materi tentang bersyukur.

Beliau mulai bercerita, pengalaman dia tinggal di Bogor. Saat di Bogor beliau sempat nyantri di tempat KH. Ma’ruf Amin, yang cukup terkenal ilmunya. Beliau menceritakan bahwa desa kami adalah desa yang dirahmati Allah, walaupun belum ada listrik. Beliau menuturkan, kalau warga Bogor setiap pagi mereka harus bangun pagi mengejar kereta menuju stasiun kereta Bogor untuk bekerja di Jakarta. Mereka kadang harus pulang petang dan membawa uang juga seadanya. Nah, beliau menuturkan semenjak hidup di kampung kami beliau merasakan indahnya kerukunan. Sesama warga saling menolong, pagi mereka bisa ikut solat jamaah, siangnya masing-masing kerja ke ladang dan siangnya istirahat siang untuk melaksanakan solat jamaah. Saat asyar tiba, masyarakatpun berhenti sejenak dan solat asyar secara berjamaah.

Beliau melanjutkan ceramahnya: kalau disini setiap asyar anak-anak berkumpul di surau untuk menuntut ilmu agama setelah mereka selesai sekolah di siang harinya. Tidak kalah kaum ibu dan bapak, setelah magrib mereka membuat majelis taklim secara bergantian keliling dari rumah kerumah untuk ibu-ibu dan di masjid untuk bapak-bapak. Inilah yang kita syukuri, bapak-bapak. Kemudian ada jamaah yang bertanya: pak Ustadz kenapa kita ini tidak maju-maju ya? Listrik tid ada? Jalan ke kotapun masih jalan lumpur dan sulit dilalui kendaraan. Pak Ustadz menjawab, ya itulah rahmat-Nya Allah. Barangkali kita kalau sudah diberi fasilitas itu lupa kepada-Nya. Kita lupa mengaji, kita lupa menuntut ilmu agama dan mengamalkannya. Karena kita disibukkan keluar masuk desa menuju kota.

Tak terasa mataharipun sudah mulai terbit, seberkas cahaya masuk melalui dinding-dinding surau kami. Surau kami terbuat dari kayu dadap yang bangunannya cukup sederhana. Kalau sekilas tak tampak seperti masjid atau surau. Di bagian bawah cuman diplester dan diberi alas tikar. Selesai pengajian subuh, aku bergegas pulang dan membantu bapakku menimba air di sumur belakang rumah. Kami memiliki sumur dengan kedalaman 10 meter, jadi tugas saya adalah menimba sampai isi bak penuh untuk mandi kami sekeluarga.

Selesai mandi aku bersiap kesekolah. Kupakai seragam merah putih yang sudah kucuci bersih. Namun baju ini tampak kusam dan lusuh, maklum aku hanya punya satu stel baju merah putih dan satu stel baju pramuka. Setiap senin-sampai kamis aku bersekolah menggunakan seragam putih merah dan setiap jumat dan sabtu menggunakan seragam Pramuka. Pagi itu aku tak punya persiapan apa-apa. Kugendong tas hitam satu-satunya.

Setelah siap, sekitar pukul 6.30 aku pergi berjalan menyusuri jalan yang masih becek menuju sekolah aku harus menempuh jarak 3 km berjalan kaki karena memang tidak punya sepeda dan tidak ada angkutan yang masuk ke desa kami. Angkutan cuman ada gerobak sapi yang dipakai oleh petani ke kebunnya. Teng-teng-teng bel sekolah sudah berbunyi saat waktu menunjukkan pukul 07.30 saat tanda mulai masuk sekolah. Siswa-siswi sekolah dasarpun berhamburan menuju lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Hari ini adalah upacara bendera pertama setelah liburan kenaikan kelas.

Suasana pagi itu cukup cerah, saat tim pengibar bendera menaikkan bendera dan semua peserta hormat. Disitulah kami sangat bangga menjadi siswa sekolah dasar. Semua tampak hening dan khidmad mengikuti upacara bendera. Bapak Jursal, kepala sekolah kami memberikan amanat kepada kami. Beliau menuturkan bahwa siswa sekolah dasar dari Pekon Barus adalah calon generasi masa datang. Kalian semua kelak yang akan meneruskan menjadi peratin (kepala desa), guru, dosen, perawat, pegawai negeri, camat, bupati, dan menjadi pemimpin di masa yang akan datang.

Beliau menuturkan bahwa yang paling penting bagi kami adalah memiliki daya juang yang tinggi dan semangat belajar yang terus menerus. Walaupun banyak keterbatasan, tapi percayalah nak Allah akan memberikan kalian apa yang kalian usahakan dan cita-citakan. Mengakhiri amanatnya, pak Jursal memberikan nasehat untuk murid-muridnya agar memiliki akhlak dan mental yang baik. Kalau nanti jadi pemimpin jangan jadi pemimpin yang korup, dengarlah aspirasi wargamu dan bangunlah pekon Barus ini menjadi pekon yang maju. Hari itu, aku hanya mendengar dan tampak biasa apa yang dikatakan pak Jursal. Tapi saya tetap mengingatnya.

Pelajaran pertama, kami adalah bahasa Lampung. Pak Zam yang mengajar bahasa Lampung hari ini. Ya, bahasa Lampung memang agak sulit bagi saya yang memang anak dari petani rantau dari Jawa. Waktu itu, kami diberi pelajaran menulis aksara lampung. Pak Zam bertutur, aksara lampung ini merupakan bukti bahwa peradaban masyarakat Lampung di masa lalu sudah mapan, dibuktikan dengan adanya aksara khusus yang menunjukkan majunya sebuah kampung atau kerajaan. Kami mulai menuliskan huruf-huruf lampung itu, ka-ga-nga begitu ucap pak Zam diikuti oleh muridnya. Pa-ba-ma, ta-da-na. Horeee akhirnya aku mengenal bahasa Lampung. Perlahan-lahan kutulis aksara Lampung itu.

Hari itu, waktu istirahat ada yang menarik di sekolahku. Kami sedang menata koleksi buku perpustakaan yang lokasi bangunannya sejajar dengan ruang kepala Sekolah. Koleksi buku yang ada disitu bukanlah koleksi buku baru, tapi seperti lama tak tersentuh. Coba bolak-balik buku itu, aku membaca sebuah buku judulnya. Apa cita-citamu? Aku sendiri tidak mengerti apa itu cita-cita? Lalu aku baca ada yang bercita-cita jadi dokter, pegawai, perawat, PNS, tapi tak kulihat cita-cita jadi petani. Ini jadi pertanyaan dibenakku.

Sampai rumah, kutanyakan hal tersebut kepada Bapakku sepulang dari kebun. Kenapa ya, aku tadi baca buku tapi tidak ada yang bercita-cita jadi petani? Padahal kan bertani itu mengasikkan, menanam kemudian sebagian dimakan dan dijual ke pedagang untuk mendapatkan uang. Ayahku saat itu sejenak merangkulku dan bercerita. Nak, petani itu ya kayak bapak ini, pergi – pulang sore bekerja keras di kebun. Sudah pasti badan jadi hitam terbakar sinar matahari. Itulah yang menyebabkan tidak ada di dalam buku-buku itu cita-cita untuk menjadi petani. Sebagai anak umur 4 tahun saya mengiayakan saja, karena saya juga belum memahami kenapa petani tidak masuk dalam daftar cita-cita di buku-buku itu.

Malam itu, aku masih terngiang dengan pertanyaanku tadi. Kenapa tidak ada yang bercita-cita jadi petani? Dalam hatiku bergumam, aku ingin seperti bapak. Menjadi petani dan memberi makan orang banyak. Aku akan berkebun, menggunakan mesin-mesin pertanian dan bertani dengan cara yang moderen seperti yang kubaca dari buku-buku yang ada di perpustakaanku. Hanya satu pertanyaan mengganjal, kenapa pertanian tidak ada dalam daftar cita-cita di buku-buku itu?

Sekian.

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: