Oleh: Supriyanto Liwa | 12 Juni 2016

Perjuangan itu indah untuk diceritakan …

Picture3

Saya teringat saat saya kecil, saya hanya bercita-cita untuk menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Saya kira slogan dan cita-cita ini sangat umum sifatnya. Saat menginjak sekolah di Sekolah Dasar saya hanya menyenangi belajar. Pelajaran yang saya sukai pun pelajaran yang berhubungan dengan logika. Saya paling tidak suka pelajaran menghafal.

Saat pertama kali sekolah di Madrasah Ibtida’iyah (MI) saat itu kampung kami, yang bernama umbulioh. Umbul berarti perkampungan yang berada di dalam kebun, lioh artinya alang-alang dalam bahasa lampung. Umbulioh dapat diterjemahkan sebagai sebuah kampung kecil yang berada di tengah kebun yang berada di Desa Sebarus. Singkatnya umbulioh merupakan tempat berkumpul warga Sebarus yang berkebun dan membangun rumah semi permanen secara berkelompok.

Saya sekolah di MI dua tahun sebelum gempa tahun 1994. Jarak rumah ke sekolah yang berada di desa watas adalah 2km. Saat itu ke umbulioh paling dekat adalah dari desa Watas, namun akses jalannya dengan menggunakan jalan setapak. Baru setelah kami sekolah di tahun 1992, mulai di bangun jalan tanah dengan ukuran cukup besar. Waktu itu, yang saya tahu hanyalah bertani (bercocok tanam) tidak ada yang lain.

Beruntung selain berkesempatan untuk sekolah saya juga sempat mengaji di salah satu masjid yang ada di Watas, lokasinya 2 km dari tempat tinggal kami dan harus berjalan kaki. Namun, saya sangat yakin waktu itu Allah menggerakkan langkah kaki saya dan teman2 seperjuangan untuk bisa berjalan menuntut ilmu untuk sekedar bisa membaca huruf hija’iyyah. Waktu itu, di kampung belum menggunakan iqro, belajar membaca Al Qur’an dimulai dari mengeja huruf satu persatu. Sampai membaca juz amma juga dieja.

Namun, tak lama menikmati suasana di MIN. Tahun 1994 Liwa dilanda gempa bumi di liwa tanggal 15 Februari 1994 dini hari. Berdasarkan laporan hampir semua bangunan permanen di Liwa rata dengan tanah. Tak kurang dari 196 jiwa dari beberapa desa dan kecamatan di Lampung Barat tewas, sementara jumlah korban yang terluka hampir mencapai 2000 orang. Rata-rata mereka tewas dan terluka karena tertimpa reruntuhan bangunan. Beruntung saya dan keluarga selamat, rumah kami tidak roboh.

Beberapa minggu kemudian saya dipindahkan ke SD Keyongan 1 di Boyolali tempat kelahiran saya untuk melanjutkan studi. Tak mudah, biasa hidup dengan orangtua sendiri harus menumpang di rumah paman (pakde) dan kakek. Kebetulan rumah kakek dari Bapak dan Ibu berdekatan. Sayapun menginap secara berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Yang paling sedih adalah saat meminta uang jajan, saya harus minta kesiapa? kadang minta ke bibi, kadang minta ke paman dan kadang juga diberi oleh kakek. Namun karena memang kondisi ekonomi keluarga tidaklah terlalu baik, saya harus menerima seadanya.

Hanya sampai kelas 4 SD bertahan di Keyongan, sayapun dipindahkan lagi ke SD Negeri 1 Sebarus, Liwa. Yang menarik adalah saat kecil saya bisa berbahasa Lampung, namun ketika hari pertama pindah saya tak mengerti satu katapun. Namun karena memang anak2 mudah belajar maka saya akhirnya bisa dan mengerti bahasa lampung. Walaupun sampai sekarang selalu ditertawakan karena memang logat saya logat orang Jawa. Hehe… Walaupun sebenarnya kalau diajak ngobrol, sudah lumayan lancar dan mengerti.

Saat SD di Sebarus beruntung dapat menjadi santri dari Pak Haryanto, Pak Edi Pramudito dan Pak Purwana di TPA Tikoran (belakang asrama polisi sebarus). Setiap pulang sekolah kami dididik untuk bisa membaca Al Qur’an dengan baik, diperbaiki makhrajnya. Sampai saat ini, menjadi bekal dalam membaca Al Qur’an walaupun tidak bisa dikatakan mahir tapi lumayan baik berkat didikan para guru. Semoga Allah membalas jasa mereka, karena sampai sekarang saya belum berkesampatan berterima kasih secara langsung. Hanya doa semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada mereka.

Saat di SMP di SMP Negeri 1 Liwa saya banyak mengikuti kegiatan kepramukaan. Hal ini karena organisasi ini begitu maju dan banyak digemari saat itu. Saya merasa energi kami yang besar dapat tersalurkan melalui kegiatan latihan dan pelatihan kepemimpinan disini. Walau agak mbandel, tapi saya beruntung masih dimasukkan dalam urutan 5 besar di sekolah. Saat Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dulu namanya EBTANAS saya mendapatkan nilai yang cukup memuaskan 42,9. Berada pada urutan kedua setelah Desabri Eka Putra (danem : 34,sekian).

Desabri ini adalah sosok yang luar biasa memang, anaknya kutu buku waktu itu. Dia rajin sekali belajar dan sangat pintar. Dia mengenyam pendidikan SD di Padang, dan merupakan anak yang cukup alim dan cukup pintar. Satu lagi teman yang cukup pintar adalah Brilian Widiashari, waktu itu orangtua nya adalah Camat di Kecamatan Balik Bukit. Saya sering meminjam buku kepadanya, karena memang tak mampu membeli buku. He. he.. Terima kasih Brilian, walaupun mungkin yang bersangkutan sudah lupa dan tidak sadar tapi saya tetap ingat. Setiap pulang dari Bandar Lampung orangtuanya membelikan buku baru dan sayapun sering meminjamnya barang seminggu untuk ikut membaca. Waktu itu masih sulit menemukan literatur selain buku cetak.

Saat masuk di SMA 1 Liwa, saya malah tidak terlalu rajin dalam belajar. Lebih menyenangi petualangan melalui kegiatan kepramukaan. Kemah pertama saat SMA adalah di Sekincau waktu itu adalah Raimuna Cabang, sempat juga berkemah di Way Kanan (Curug Gangsa), sempat juga mengikuti lomba lintas alam dan wisata krakatau, sempat ikut Raimuna Daerah (RAIDA) di kwartir daerah Bandar Lampung, Kemah Riset Nasional yang diakadan LIPI, serta kegiatan-kegiatan lain di level kabupaten.

Selain itu beruntung saya pernah diajak ikut dalam lomba pidato bahasa Inggris tingkat provinsi, olimpiade komputer tingkat provinsi dan ikut seleksi siswa teladan honda tingkat provinsi. Walaupun tidak meraih juara, saya merasa sangat percaya diri dengan pengalaman yang saya peroleh itu. Waktu 3 tahun di SMA saya rasakan sangat pendek karena dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di luar sekolah. Wkatu itu, saya lebih menyenangi kegiatan diluar sekolah dibandingkan pelajaran di sekolah. Namun, beruntung tingkat kompetisi yang tidak terlalu ketat membuat saya masih bisa mengkuti kegiatan akademik dengan baik.

Pengalaman kegiatan tersebut yang kemudian membawa saya menjadi mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB). di IPB pun saya lebih menyenangi mengikuti kegiatan keorganisasian dibandingkan dengan kegiatan akademik. Wal hasil saya mendapatkan IPK pas-pasan. Pengalaman perjalanan di IPB akan saya tulis dalam tulisan khusus agar lebih dalam dan dapat dinikmati oleh para pembaca. Pengalaman2 itu sebenarnya juga dengan susah payah dicapai, tapi indah saat dikenang dan diceritakan.

Pesan saya untuk anak muda Indonesia dimanapun anda berada, lakukan saja yang terbaik dan lakukanlah banyak hal dimasa muda kita. Kita tidak pernah tau, bagian pengalaman yang mana yang akan bermanfaat bagi masa depan kita. Apakah akademik, apakah ekstrakurikuler ataukah pergaulan di sekolah/rumah/masyarakat. Saya kira kesuksesan anda adalah resultante dari keberanian anda untuk hadir dan mengumpulkan pengalaman dari berbagai segi. Jangan membatasi hanya pada satu talenta saja, misal akademik saja-organisasi saja-kemasyarakatan saja; semua harus lengkap dan dicoba semua selama anda masih muda.

 

 


Kategori

%d blogger menyukai ini: