Oleh: Supriyanto Liwa | 21 Oktober 2015

Bulungan dan Tarakan dikepung Asap Kebakaran Hutan

Perjalanan Jakarta – Tarakan – Tanjung Selor

Kamis 15 Oktober 2015 perjalanan mengunjungi Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara pun dimulai. Malamnya sebelum berangkat seperti biasa istri menyiapkan perlengkapan saya untuk berangkat. Paginya pukul Sembilan perjalananpun dimulai. Pagi itu, saya diantar oleh adik menuju ke Terminal Bubulak. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju ke Baranangsiang, kali ini saya menggunakan Trans Pakuan. Trans pakuan merupakan sebuah bus kecil (3/4) yang terminal Bubulak melintasi Yasmin – Jalan Baru – Jalan Pajajaran s.d. Baranangsiang. Kondisi bis inipun hari demi hari semakin memprihatinkan, tampilannya yang begitu usang walaupun kalau dibandingkan dengan angkot dan metromini usianya masih terbilang muda.

Dari terminal baranangsiang saya melanjutkan perjalanan via bus Damri, kali ini beruntung saya dapat Royal Class (damri dengan seat 2-1) dengan ongkos sebesar 75.000 sampai Bandara Sukarno Hatta. Perjalanan siang inipun lancar, sekitar pukul 10.30 an dari Baranangsiang sampai di Bandara sekitar pukul 12.30. Sayapun langsung check in dan makan, karena memang sudah terasa sangat lapar. Sayapun harus menunggu karena pesawat yang semestinya berangkat pukul 14.45 ternyata di delay, kali ini saya naik L-I-O-N. Petugas menyatakan bahwa ini akibat dari banyaknya kabut asap di berbagai daerah.

Alhamdulillah tak selang beberapa lama akhirnya pesawatpun terbang menuju ke Balikpapan. Sore itu, kami tidak perlu turun untuk transit ke Bandara Balikpapan. Padahal bandara Balikpapan ini merupakan bandara yang paling saya sukai, di ruang tunggu yang tanpa sekat menjadikan bandara ini tampak begitu luas dan pemandangannyapun bagus, langsung menghadap runway yang disamping kanan, kiri dan depan tampak pemandangan laut.

Perjalananpun dilanjutkan malam itu sampaillah saya di Kota Tarakan pada pukul 21.00 WITA. Karena badan terasa capai sekali, maka sayapun menginap di Hotel Paradise, seperti biasa Pak Burhan (wakil manager hotel) yang langsung menjemput saya. Dengan gaya bicara yang cukup ramah khas pegawai hotel menjadikan rasa capek perjalananpun sedikit terobati. Malam itu saya sempatkan makan malam, seperti biasa saya tidak mencari tempat makan yang jauh dari penginapan. Tepat di depan hotel ada pecel ayam yang umumnya dijual oleh orang asal jawa timuran. Pengalaman keliling beberapa lokasi di Indonesia selalu ketemu orang Jawa alias makanan jawa juga.

Perjalanan Tarakan-Tanjung Selor

Paginya, 16 Oktober 2015 sayapun melanjutkan perjalanan ke Tanjung Selor. Awalnya saya menuju bandara untuk menumpang pesawat Kalstar, namun sampai siangpun tidak ada kejelasan apakah pesawat akan masuk masuk ke Tanjung Selor. Hari itu, paginya hujan namun tampak kabut asap menyelimuti kota Tarakan. Akhirnya perjalanan via udarapun dibatalkan, beruntung dari Tarakan masih ada Speed Boat menuju Tanjung Selor. Siang itupun saya langsung menuju Tanjung selor dengan speed boat, perjalanan dengan moda transportasi ini harus melalui laut dan sungai Kayan yang membelah hutan Kalimantan.

Sesampainya di Tanjung Selor, sayapun langsung chek in sebentar di Hotel Crown dan sempat shalat jama’ karena tidak sempat salat jumat diperjalanan. Karena janji dengan Bagian Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan daerah dari pagi, maka saya langsung meluncur dan memberikan pelatihan mengenai pemanfaatan Sistem Informasi Sumberdaya Alam Daerah Kabupaten Bulungan. Walaupun masih agak capek, tapi acara berlangsung lancar sampai sore.

Malam itu, saya menginap di Hotel Crown dan lagi-lagi keluar makan makanan jawa. Kali ini saya pesan nasi Goreng, namun tetap nasi goreng buatan istri jauh lebih enak daripada nasi goreng disini. He he …

Pelaksanaan Pelatihan di Tanjung Selor

Paginya 17 Oktober 2015 pelatihan dilanjutkan sampai dengan makan siang. Seusai pelatihan tak berlama-lama di Kota ini, saya langsung meluncur ke Tarakan dan menginap kembali di Hotel Paradise. Hotel ini cukup mudah ditempuh karena berada di tengah kota hanya berjarak 200 meter dari Swis Bell Hotel. Sore sempat makan di KFC di depan tarakan plaza (mall yang sudah sepi seperti tidak berpenghuni). Malamnya sempat diantar oleh Pak Burhan untuk membeli oleh-oleh di toko Milo dan pusat oleh-oleh untuk sekedar membelikan baju untuk anak.

Perjalanan Pulang Tarakan- Balikpapan – Jakarta

Minggunya rencana akan terbang ke Bogor dengan Sriwijaya Air menuju Jakarta. Sejatinya pemberangkatan dari Tarakan pukul 11.30, namun akhirnya ditunda karena kabut asap yang begitu tebal. Jarak pandang hanya berkisar 500 meter sementara untuk kepentingan penerbangan harus diatas 1000 meter. Akhirnya karena suasananya begini saya harus rela menunggu untuk bisa diterbangkan ke Balikpapan. Menurut beberapa sumber ini akibat dari kebakaran hutan di dataran kalimantan.

Suasana bandara jadi agak gaduh karena penerbangan banyak yang ditunda bahkan dibatalkan. Namun yang menarik hanya sedikit orang yang terlihat panik dan marah-marah yang umum terjadi di Bandara besar seperti Soekarno Hatta Jakarta pada saat sebuah maskapai delay. Munkin ini dipengaruhi oleh latar belakang penumpang yang umumnya adalah masyarakat yang biasa hidup agak jauh dari perkotaan, sehingga tidak mudah tersulut amarahnya. Cenderung lebih sabar, itulah yang dapat saya pelajari dari situasi ini.

Saya sempat berbincang dengan seorang bapak yang berangkat dari Malinau dengan speed boat untuk pulang ke Makassar. Beliau sudah datang dari hari sebelumnya, untuk mengindari tertinggal pesawat, namun hari inipun tidak dapat terbang. Tentu mengecewakan namun dari raut wajahnya begitu sabar dan teduh tampak pasrah menerima takdir Allah ini. Beliau menuturkan bahwa saat naik speed boat sudah merasakan adanya asap dari kebakaran hutan.

Melihat sekeliling di ruang tunggu bandarapun tampak banyak orang yang harap-harap cemas menanti penerbangan termasuk saya duduk tepat di tengah-tengah ruang tunggu sambil menuliskan tulisan ini. Di depan saya nampak ibu-ibu berkerudung sedang mengobrol untuk coba saling menghibur karena memang menunggu suatu yang tidak pasti tentu tidaklah mudah.

Sungguh nikmat Allah bisa melihat pemandangan hijau dan birunya langit sedang dicabut, tentu ini menjadi renungan bagi kita apakah kita bersyukur atas nikmat yang diberikan sebelumnya. Semoga Allah SWT menjadikan kita masuk kedalam golongan orang-orang yang selalu bersyukur dan bersabar dalam menghadapi berbagai persolan hidup yang kita hadapi. Demikian sekelumit cerita perjalanan ke Bulungan melaui Balikpapan dan Tarakan. Cukup panjang perjalanannya namun pengalamannya begitu menyenangkan dan berkesan.


Kategori

%d blogger menyukai ini: