Oleh: Supriyanto Liwa | 11 Januari 2014

Kunjungan ke-Blitar 07-09 Januari 2014

Kali ini penulis menyempatkan datang ke Blitar tepatnya Kelurahan Kedung Bunder, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Kalau mendengar istilah Blitar saya ingat potongan lirik lagu “Blitar Kuto Chilik Sing Kemencar”. Ada lagi kalau ingat Blitar, terdapat kuburan presiden kita pertama Bung Karno. Selain itu kalau akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh kasus Anas Urbaningrum, asalnya juga dari Blitar.

20140110_133150

Tapi saya tidak mengunjungi makam Bung Karno ataupun Rumah Pak Anas. Kunjungan kali ini adalah dalam rangka kegiatan disseminasi Sistem Informasi Berbasis SMS yang dibangun oleh FAO. Kebetulan saya adalah salah satu tim dalam pekerjaan tersebut. Ini adalah kunjungan kedua saya di awal Januari, setelah sebelumnya ke Liwa, Lampung Barat untuk menjemput istri dan putri pertama saya.

Kedatangan kami menggunakan Kereta Gajayana Eksekutif yang berangkat dari Stasiun Gambir sekitar pukul 18.30an. Selanjutnya sampai di Blitar sekitar pukul 07.30an pagi. Blitar di Pagi hari masih terlihat sepi. Tapi bersyukur kami datang dijemput oleh Pak Awi. Seorang petani cabai besar di Blitar Selatan.

Hari pertama kami datang langsung melakukan instalasi perangkat SMS yang dipasang di AACI Blitar. AACI kepanjangannya adalah Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia cabang Blitar yang diketuai oleh Bapak Muhamad Sulcha.

Kegiatan diikuti oleh 27 orang anggota AACI Blitar yang berasal dari 18 kecamatan penghasil cabai. Untuk musim tanam bulan ini (Januari 2013) terdapat sekitar 200 ha lahan cabai yang siap tanam. Bisa dikatakan Blitar merupakan pemasok cabai yang cukup besar saat ini. Sekitar 10 % penyumbang nasional, walaupun saya sendiri belum menghitung secara detail.

Selanjutnya sorenya kami diantar menuju hotel puri perdana yang berada di dekat alun-alun kota Kediri. Menginap di Hotel ini cukup murah anda cukup merogoh kocek sekitar Rp 300.000 sudah bisa menikmati fasilitas. Walaupun disini ada fasilitas wifi tapi saya kira masih belum baik alias masih lemot.

Esok harinya (Jumat) kami sholat di masjid Agung Kota Blitar dan selanjutnya diajak pak Awi untuk mengunjungi kebun miliknya. Selanjutnya kami diajak keliling melewati kawasan perhutuani yang ditanami oleh masyarakat. Di kawasan ini mayoritas ditanami Jati, Tebu dan juga cabai. Yang fantastis adalah harga cabai hari ini mencapai Rp 25.000 di level petani. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi petani.

Tak lupa kami mencari oleh-oleh dan membeli buah tangan khas Blitar yaitu sambal pecel. Lalu dilanjutkan makan dulu sebelum ke stasiun.

Setelah itu pada pukul 16.45 kereta Gajayana dari stasiun Kediri dan kamipun naik ke kereta. Sampai di kereta langsung coba cari koneksi internet ternyata gagal. Dan sayapun menuliskan artikel ini sebagai cara membuang rasa bosan di kereta, walaupun saya berada di salah satu gerbong dengan barisan paling depan pas di posisi nyaman menonton televisi.

Selamat jalan-jalan ke Blitar. See you next time.


Kategori

%d blogger menyukai ini: