Oleh: Supriyanto Liwa | 14 Juni 2013

KIPL@ Mengembangkan Sistem Budidaya Kubis Ramah Lingkungan

Jika anda berkunjung ke Liwa, yang merupakan daerah sentra hortikultura tentu akan banyak menemui ladang-ladang yang ditanami kubis. Kubis, kol, kobis, atau kobis bulat adalah nama yang diberikan untuk tumbuhan sayuran daun yang populer. Tumbuhan dengan nama ilmiah Brassica oleracea L. Kelompok Capitata ini dimanfaatkan daunnya untuk dimakan. Daun ini tersusun sangat rapat membentuk bulatan atau bulatan pipih, yang disebut krop, kop atau kepala (capitata berarti “berkepala”). Kubis berasal dari Eropa Selatan dan Eropa Barat dan, walaupun tidak ada bukti tertulis atau peninggalan arkeologi yang kuat, dianggap sebagai hasil pemuliaan terhadap kubis liar B. oleracea var. sylvestris.

Tanaman Kubis

Tanaman kubis cocok ditanam di daerah pegunungan (400m dpl ke atas) di daerah tropis. Di dataran rendah ukuran krop mengecil, namun masih banyak juga yang membudidayakannya. Tanaman kubis sebenarnya rentan terhadap serangan hama, terutama ulat. Hama ulat menyebabkan kubis yang biasa kita beli berlubang. Agar harga jual tinggi dan diminati konsumen, petani harus menjaga agar kubis tidak terserang hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida. Namun efek dari penggunaan pestisida adalah kontaminasi berlebih pestisida pada tanaman kubis yang kita beli di pasaran. Untuk itu, perlu dikembangkan pestisida hayati untuk mengurangi bahan kimia pada kegiatan budidaya kubis.

Menanam Kubis

Usaha untuk mengurangi pestisida telah dikembangkan oleh petani. Petani Liwa khususnya sudah sadar, namun mereka butuh pengetahuan yang baik untuk dapat terbebas dari pestisida kimia. Petani dapat menggantinya dengan pestisida hayati, yang tentu membutuhkan pengetahuan yang baik. Saat ini petani melalu Komunitas Internet Petani Liwa (KIPL@) mencoba membuka akses pengetahuan melalui berbagai kegiatan.

Panen Kubis

Temu anggota
Temu anggota dilaksanakan setiap 4 minggu sekali (untuk beberapa kali dilaksanakan setiap minggu atau dua minggu sekali). Pertemuan ini dilaksanakan dengan melakukan urun rembug permasalahan-permasalahan petani kemudian mencari solusi bersama dengan menggunakan media informasi Internet. Dengan internet inilah petani mencari sendiri pengetahuan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini tentu perlu mendapat dukungan berbagai pihak (terutama penyedia informasi) untuk memberikan informasi yang mudah dicerna dan dapat diterapkan dalam kegiatan budidaya maupun peningkatan usaha tani.

Diseminasi Hasil Riset IPB tahun 2012
Pada tahun 2012 KIPL@ mendapat kunjungan dari IPB. Tim dari IPB diantaranya adalah : (1) Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc, (2) Dr. Ir. Widodo, M.S, (3) Supriyanto, S.Tp, M.Kom, dan (4) Safaruddin Hidayat Al Ikhsan, S.Kom, M.Kom. Kedatangan tim IPB adalah untuk membuka jalinan kerjasama pengembangan sistem manajemen pertanian yang baik dengan memanfaatkan informasi melalui internet. Prof Kudang memberikan motivasi kepada petani agar menjadi pengguna langsung teknologi, dan dapat mengembangkan pengetahuannya secara mandiri dengan internet. Dr. Widodo memberikan motivasi dalam peningkatan proteksi tanaman. Secara langsung Dr. Widodo juga mengajak untuk menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan. Sistem ini pada akhirnya akan menyelamatkan petani dan akan meningkatkan daya saing petani Lampung Barat Khususnya dan Petani Indonesia pada umunya.


Kategori

%d blogger menyukai ini: