Oleh: Supriyanto Liwa | 24 Maret 2013

Sekolah sampai S2 di IPB : inspirasi

Semenjak saya menginjakkan kaki ke Bogor, hari itu 20 Juni 2004 pagi yang dingin menyapa perjalanan pertama saya untuk menuntut ilmu ke Institut Pertanian Bogor (IPB). Hari itu Bapak saya mengantarkan saya sampai ke kampus IPB. Perasaan bangga menyelimuti perasaan, walaupun agak minder juga ketemu dengan banyak orang yang pintar-pintar dari seluruh Indonesia. Perjalanan panjang pun dilalui, Liwa – Bandar lampung ditempuh dengan menggunakan bis AKDP (Angkutan Kota Dalam Provinsi). Berhentilah kami di Terminal Rajabasa, lalu perjalanan dilanjutkan dengan menumpang Bus Rajabasa – Bakauheni.

Sesampainya di pelabuhan bakauheni, yang selanjutnya saya sangat mengenal bahwa pelabuhan ini sangatlah ramai dan sibuk. Tibalah kami di Pelabuhan merak dan naik bus jurusan Bandung. Waktu itu belum ada tol Cileunyi yang mengubungkan bandung dengan Jakarta. Bus-bus menuju kota bandung masih melewati Ciawi (puncak) untuk sampai di kota bandung. Pukul 12 an malam sesampainya di Ciawi, agak bingung juga karena belum pernah kesini. Namun Alhamdulillah, kami berangkat bersama dengan 2 orang teman saya dan keluarganya yang sudah faham daerah Bogor.

Karena jumlah kami banyak, kami menyarter Angkot, yang kini saya ketahui adalah angkot 01 jurusan ciawi – baranang siang. Perjalanan pun terasa cukup panjang, maklum baru pertama kali, dan belum berpengalaman. Sampailah kami di Pelataran Graha Widya Wisuda (GWW) yang pada malam itu begitu ramai. Para mahasiswa yang sedang mempersiapkan penyambutan mahasiswa baru. Yang kemudian sangat akrab bagi saya di tahun-tahun berikutnya. Semarak penyambutan mahasiswa baru begitu kental dan terasa di kampus ini.

Karena kami tak punya sanak keluarga, kenalan atau tempat untuk menginap. Jadilah kami menginap di Aula Masid Al-Hurriyyah IPB. Aula ini saya kira adalah masjid utama di kampus IPB, yang kemudian saya ketahui bahwa ini adalah masjid lama yang sudah tidak digunakan lagi. Karena saya agak terkejut, pagi-pagi kok ada suara adzan tapi tidak ada shalat shubuh berjamaah disini. Aneh, sembari menduga-duga. Saat pagi tiba ada seorang kakak kelas yang baik menemani kami dari malam tadi, mengantar sampai ke masjid.

Pagi itu, saya diajak naik ke menara masjid Al-Hurriyyah IPB. Menara ini merupakan menara tertinggi di kampus IPB. Dari atas menara inilah saya kemudian melihat betapa luas dan Indahnya kampus IPB. Dengan menaiki menara ini, seolah menjadi isyarat bahwa saya akan mencapai puncak pendidikan tertinggi disini. Yang kemudian saya ilhami sebagai awal yang baik menuju puncak. Walaupun tidak ada hubungan logisnya sieh. He he ….

Tahun demi tahun berjalan begitu cepat, sampai hari ini saya sedang mempersiapkan untuk seminar Hasil di Sekolah Pascarajana IPB pada jurusan Ilmu Komputer. Yang tak disangka, saya bisa melanjutkan jenjang studi sampai setinggi ini. Dulu saya hanyalah anak desa, perantauan, yang tidak ada istimewanya. Tentu ini adalah berkah dari Allah SWT, rizki yang besar yang dikaruniakan kepada saya. Alhamdulillah.

Cukup aneh jika diingat-ingat, kenapa saya mengambil jurusan Ilmu Komputer untuk jenjang S2, padahal saya adalah alumni dari Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB). Gelar yang saya sandang setelah lulus S1 adalah S.Tp (Sarjana Teknologi Pertanian). Lalu apa hubungannya dengan jurusan Ilmu Komputer. Tapi ini memang jalan Allah, walaupun saya belum tahu jawabannya hari ini. Tapi saya sangat yakin bahwa ini adalah kehendak Allah dan tentu akan mendapatkan yang terbaik pula kelak. Amiin.

Saat S2 di IPB saya merasakan banyak hal yang berubah dalam diri saya. Yang dulunya waktu S1 kalau kuliah bisa tidur pulas saat dosen memberikan kuliah. Saat s2 alhamdulillah berubah, gak sampai tidur dikelas, walaupun kadang mengantuk juga saat bosan menngikuti perkuliahan di kelas. Saya kira bosan itu wajar bagi ktia yang menjalani rutinitas harian yang begitu padat dan melelahkan. Perubahan positif yang saya rasakan adalah, yang dulunya alergi dengan literatur yang menggunakan bahasa Inggris, pelan-pelan mulai mencoba untuk suka. Walaupun awalnya sulit, karena inilah yang paling njelimet bagi saya saat kuliah. Kalau menulis makalah atau laporan dalam bahasa Indonesia masih gak terlalu berat buat saya, dibanding harus membaca text book bahasa Inggris.

Harus saya akui bahwa kemampuan bahasa Inggris saya sangat menyedihkan. Ngaku ajalah, daripada nanti ketauan. Tapi jangan menyerah, bagi anda yang merasa kemampuan bahasa Inggris anda kurang, karena kita tetap bisa baca textbook yang berbahasa asing ini, walaupun dengan sedikit usaha. Usaha yang dilakukan bisa dengan menggunakan translator-translator digital yang saat ini sudah banyak. Seperti Google translate, kalau dulu pakai Transtool walaupun saat ini sudah ketinggalan.

Selain kesan-kesan itu, saya juga terkesan karena menemukan banyak teman-teman yang sudah berkeluarga. Walaupun ada juga yang masih bujang, tapi sedikit. Banyak kawan-kawan di S2 Ilmu Komputer IPB angkatan saya (2009) yang sudah menjadi dosen di Beberapa Perguruan Tinggi Negeri dan swasta di berbagai daerah. Wah “minder” juga sieh pada awalnya. Dosen jadi mahasiswa, saat awal masuk ke s2 memang agak aneh bagi saya. Setelah ikut perkuliahan, ternyata mengasikkan juga. Melihat bapak-bapak dan ibu-ibu dengan segala kelebihan dan kekurangannya kuliah dengan semangat , jadi ikut termotivasi juga.


Kategori

%d blogger menyukai ini: