Oleh: Supriyanto Liwa | 19 Oktober 2011

Lulus Untuk Kedua Kalinya Dari Kampus Segitiga

Oleh : Supriyanto
Alumni S1 Teknik Pertanian IPB (2008)
Alumni S2 Ilmu Komputer IPB (2011)

Kenapa tulisan ini diberi judul “Lulus untuk kedua kalinya dari kampus segitiga”, maksud dari kampus segitiga adalah karena rata-rata bangunan di IPB adalah segitiga. Untuk orang yang baru pertama kali masuk ke kampus IPB sebaiknya mengafal nama fakultas dan wings dari ruangan yang akan kita tuju. Kalau sampai lupa wings yang dituju, atau masuk dari arah yang berbeda, dijamin untuk orang baru akan bingung dan tidak dapat membedakan antara satu lorong (wings) dengan lorong lainnya. Inilah salah satu keunikan dan kerumitan Gedung IPB :

Konon filosofi dari bangunan berbentuk segitiga di IPB, menurut versi saya adalah :
1. Segitiga merupakan bangun yang kokoh
Komponen segitiga pada bangunan IPB memang membuat bangunan kampus lebih kokoh. Hal ini mungkin dari alasan konstruksinya.

2. Rumit dan Sulit Menemukan Ruangan
Rumit menemukan ruangan mungkin punya makna bahwa kuliah di IPB harus hati-hati, tekun dan teliti agar lulus dengan baik. Banyak diantara teman-teman yang S1 nya tidak dari IPB, bahkan yang dari IPB pun merasakan betapa keras dan rumitnya kuliah di S2 IPB. Mulai dari banyaknya tugas yang diberikan dosen, sampai rumitnya mengurus urusan administrasi untuk kelas Reguler (kelas ekonomi). Kebetulan saya masuk kelas ekonomi dan merasakan kerumitan yang cukup berarti dalam hal administrasi akademik.

3. Hati – Hati Tersesat
Hati-hati tersesat di kampus IPB, menunjukkan bahwa anda harus benar-benar faham peta ilmu yang akan anda pelajari di IPB. Waktu s1 banyak teman-teman yang tersesat di salah satu jurusan karena mengira jurusan itulah yang akan mengajarkan materi ajar yang diinginkannya. Ternyata, kenyataannya nama tak seindah isinya. Begitulah karena belum tahu peta dan jalan yang harus dilalui. Maka jangan lupa tanyakan kepada orang yang faham peta jalan anda di IPB. Tentu begitu anda faham peta jalannya, tidak akan ada masalah yang berarti kuliah di IPB.

Namun terlepas dari berbagai kontroversi mengenai bangunan segitiga, saya sangat senang bisa lulus dari Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk kedua kalinya. Saya waktu sekolah di SMAN 1 Liwa, sebuah kabupaten kecil di Lampung tidak menyangka akan menyelesaikan pendidikan S2 (Master of Science) pada jurusan Ilmu Komputer IPB. Tentu ini adalah rahmat Allah yang begitu besar kepada saya.

Terima kasih terutama saya sampaikan kepada Ibunda Warsini, yang terus memberikan dukungan moril maupun materiil sehingga saya (supriyanto) dapat menyelesaikan pendidikan baik S1 maupun S2. Juga doa senantiasa teriring kepada ayahanda Suyadi (alm) yang telah mendahului dan selalu berjuang demi kami, anak-anaknya.

Terima kasih juga kepada teman-teman seperjuangan yang telah mendukung. Pak Rico Andrian (UNILA), Pak Mukhlis Hidayat (UNSYIAH), Pak Abdul Tahir (Politeknik Soroako), Mohamad Darmawan Saputro, Bu Retno Nugroho, Bu Nursinta (BATAN).

Para pembimbing yang selalu memberikan masukan : Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar (Teknik Mesin dan Bisosistem / TMB, IPB), M.Sc, Pak Hendra Rahmawan (Ilmu Komputer, IPB), Pak Mohamad Solahudin (Teknik Mesin dan Bisosistem / TMB, IPB), dan pak Dr. Widodo (Proteksi Tanaman, IPB). Doa teriring selalu untuk Prof. Dr. Sriani Sujiprihati (alm) yang telah menjadi pembimbing penulis, memberikan masukan yang sangat membangun bagi penulis.

Semoga Allah memberikan berkah kepada apa yang telah diperoleh.


Responses

  1. barakallah bung…semoga aye bisa menyusul ente..

    Suka


Kategori

%d blogger menyukai ini: