Oleh: Supriyanto Liwa | 11 Mei 2011

Penyuluh Yang Punya Kualifikasi Baik vs Penyediaan Informasi Bagi Petani

Ketersersediaan informasi pertanian yang relevan masih sangat minim. Petani umumnya hanya bertani sesuai dengan pengalaman yang pernah mereka kerjakan sebelumnya. Sumber lain yang mungkin adalah informasi yang berasal dari petani yang sudah lama (senior). Sumber informasi seperti ini tentu belum memadai bagi petani. Keberadaan penyuluh pertanian tidak dirasakan oleh petani saat ini. Padahal saat ini sedang ada program revitalisasi penyuluhan pertanian.

Akar masalahnya adalah kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh penyuluh. Sistem rekruitmen penyuluh pertanian baik PNS maupun Kontrak saat ini tidak jelas. Terlebih di Lingkup Kabupaten seperti Lampung Barat. SDM yang direkrut tidaklah menggambarkan kemampuannya. SDM direkrut hanya berdasarkan kedekatan dengan pejabat, atau bahkan disinyalir terjadi sogok menyogok.

Bahkan pada satu penerimaan PNS, ada pendaftar yang notabene lulusan Perguruan Tinggi Pertanian terkemuka di Indonesia (Institut Pertanian Bogor) pun tidak diterima di Kabupaten Lampung Barat ini. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memperbaiki sistem penyuluhan pertanian dipertanyakan. Tentu hal ini menjadi dilemma bagi kita, yang katanya mau mengembangkan pertanian tapi malah SDM yang unggul tidak bisa masuk.

Semoga petani Indonesia tetap jaya, biarpun tak didukung oleh keberadaan pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah. Tapi hal ini tentu sulit karena sumber informasi dan pendanaan banyak yang melibatkan regulasi pemerintah. Hal ini yang menjadikan petani semakin dimarginalkan.


Kategori

%d blogger menyukai ini: