Oleh: Supriyanto Liwa | 26 April 2011

Bertanam Cabai di Liwa – Lampung Barat

Oleh : Supriyanto, S.Tp
Alumni Institut Pertanian Bogor

Tanpa disangka dan diduga ternyata Liwa merupakan sentra sayuran di Provinsi Lampung. Liwa merupakan daerah yang berada diantara Gunung Pesagi dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Tanah yang dikelilingi oleh perbukitan menjadikan daerah ini memiliki pemandangan yang indah. Cukup tepat untuk dijadikan tempat refresing. Terlebih bagi anda yang punya aktivitas padat.

Selamat Datang Liwa

Selamat Datang Liwa

Pada awalnya, Liwa merupakan penghasil kopi yang memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap ekspor kopi nasional. Namun seiring dengan waktu, harga kopi yang tak lagi berpihak kepada petani membuat petani banyak yang membongkar kebun kopi mereka dan mulai bertanam sayuran. Sayuran yang ditanam diantaranya adalah : Cabai Merah, Cabai Rawit, kubis (kol), sawi telur, chaisin (sawi mie ayam), wortel, dan berbagai macam produk sayuran lainnya.

tanaman cabai

Tanaman Cabai

Petani dil Liwa sendiri dapat digolongkan ke dalam dua jenis yaitu : (1) petani maju, dan (2) petani berkembang. Petani maju adalah petani yang telah memanfaatkan teknologi Budidaya dengan baik. Sementara petani berkembang adalah petani yang masih menggunakan teknik bercocok tanam konvensional dalam kegiatan budidayanya.

Namun secara umum, untuk budidaya cabai merah di kawasan ini (Liwa – Lampung Barat) sudah menggunakan cara bercocok tanam yang mengadopsi penggunakan teknologi. Plastik mulsa dan pemilihan benih unggul sudah digunakan secara umum oleh petani, baik petani berkembang maupun petani maju. Pada tahapan persiapan lahan diberikan pupuk dasar berupa pupuk kandang (organik) dan pupuk kimia (N, P, K). Pupuk kimia yang digunakan sebagai pupuk dasar adalah pupuk tunggal.

Hama Ulat Pada Cabai

Hama Ulat Pada Cabai

Sementara itu teknik pengendalian hama dan penyakit saat ini menggunakan pestisida. Pestisida dengan dosis yang sangat tinggi memang cukup meresahkan, baik bagi konsumen maupun bagi petani sendiri. Hal ini juga akan menyebabkan berbagai macam hama dan penyakit resisten sehingga ditakutkan akan sulit dalam penganggulannya. Namun pilihan yang tak ramah lingkungan ini dipilih karena kebutuhan ekonomi petani.

Pemanenan cabai merah dilakukan dengan membayar pekerja panen dengan sistem harian untuk memanen hasil. Penjualan dilakukan melalui pedagang (tengkulak) yang datang langsung kepada petani. Mekanisme harga yang diterapkan adalah mekanisme harga pasar. Jadi petani kadang untung kadang rugi, disebabkan karena kebijakan harga yang fluktuatif ini.

Berdasarkan ilustrasi diatas, dapat disimpulkan beberapa hal :
1. Pertanian di Liwa, Lampung Barat sudah menerapkan teknologi budidaya yang baik.
2. Petani cabai menjual barang melalui tengkulak, yang berakibat pada ketidakstabilan harga dan tidak jelasnya sistem pembayaran dan permintaan barang. Semua tergantung mekanisme pasar.
3. Perlu ada perhatian serius dari pemerintah, terutama Pemerintah daerah untuk membuat penelitian lapangan terpadu yang bekerja sama dengan petani untuk mengembangkan teknologi budidaya yang lebih baik lagi. Hal ini perlu untuk menjamin keberlangsungan kegiatan pertanian, khususnya cabai merah (Capsicum annuum. L) di Liwa-Lampung Barat.


Kategori

%d blogger menyukai ini: