Oleh: Supriyanto Liwa | 26 Februari 2011

Faktor Kesuksesan Agribisnis di Liwa

Secara umum kegiatan agribisnis dapat digolongkan ke dalam dua kegiatan utama yaitu kegiatan usaha tani (on farm activities), sedangkan pengadaan sarana produksi, agroindustri pengolahan, pemasaran dan jasa-jasa penunjang dikelompokkan ke dalam kegiatan luar usaha tani (off-farm activites). Setidaknya terdapat lima sub sistem pada kegiatan agribisnis (Sumardjo, 2004) yaitu :
(1) Sub sistem faktor input pertanian (input factor sub-system),
(2) Sub-sistem produksi pertanian (production sub-system),
(3) Sub-sistem pengolahan hasil pertanain (processing subsystem),
(4) Sub-sistem pemasaran (marketing sub-system), dan
(5) Sub-sistem kelembagaan penunjang (supporting institution sub-system).

Kelima faktor tersebut perlu di perhatikan dalam rangka menyukseskan kegiatan agribisnis. Secara umum untuk daerah Liwa berikut adalah gambaran kondisi dari kelima sub sistem agribisnis tersebut :

Faktor input pertanian di Liwa tidak mengalami kendala yang berarti. Pupuk dan berbagai kebutuhan dalam kegiatna budidaya pertanian di Liwa sangat mudah didapatkan. Hanya terkadang masalah harga input pertanian menjadi masalah. Hal ini disebabkan karena efek dari memburuknya ekonomi dan meningkatnya inflasi.

Pengolahan hasil pertanian belum dominan untuk daerah Liwa. Hal ini disebabkan karena Komoditas yang banyak di produksi di Liwa adalah sayuran yang diserap pasar dalam kondisi segar. Mash perlu banyak inovasi terkait dengan hal ini.

Untuk kegiatan pemasaran, saat ini harga tergantung pada pasar. Produk sayuran merupakan produk terbuka, dimana pasarlah yang mengendalikan harga. Pemerintah tidak dapat melakukan intervensi, sehingga hal ini kadang menyulitkan juga bagi petani. Kondisi harga yang tidak menentu. Pada saat panen raya dan harga murah, maka produk banyak yang tidak terjual.

Petani di Liwa, Lampung Barat umumnya merupakan petani mandiri. Kondisi lembaga penunjang seperti KUD, Kelompok tani tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan karena petani belum terbiasa bekjerja secara kelompok. Petani umumnya bekerja sama dengan penyedia sarana produksi pertanian untuk mendapatkan informasi mengenai pengembangan pertanian.


Responses

  1. mmm…pak Supri ternyata wp mania juga, foto-fotonya keren-keren pak. Salam dari anak Pasim…siswanya pak Supri.🙂

    Suka

    • he he .. pak yogi, mari ramaikan Pasim dengan wp mania..

      Suka

  2. mampir om..:)

    Suka

    • Oke mas

      ________________________________

      Suka


Kategori

%d blogger menyukai ini: