Oleh: Supriyanto Liwa | 27 Agustus 2009

Aspek Manajemen Alat Dan Mesin Pada Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit di PTPN Vii Unit Usaha Bekri, Lampung

Oleh : Supriyanto, S.TP

RINGKASAN

Kelapa sawit merupakan tanaman komoditas perkebunan yang cukup penting di Indonesia dan masih memiliki prospek pengembangan yang cukup cerah. Komoditas kelapa sawit baik berupa bahan mentah maupun hasil olahannya menduduki peringkat ketiga penyumbang devisa non-migas terbesar bagi Indonesia setelah karet dan kopi.

Budidaya kelapa sawit diawali dengan proses pengolahan lahan (Land Clearing) yang dapat berupa pembukaan lahan baru maupun penanaman ulang (replanting). Proses selanjutnya adalah pembibitan yang dibagi menjadi dua tahapan yaitu pembibitan awal (pre nursery) dan pembibitan utama (main nursery). Tanaman kelapa sawit dibagi atas dua periode pertumbuhan yaitu Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) yang berusia dibawah 3 tahun dan Tanaman Menghasilkan (TM) yang berusia antara 3 – 25 tahun. Pada kedua periode tersebut tanaman perlu pemeliharaan secara intensif agar proses pertumbuhan dan hasil produksinya optimal. Kegiatan pemeliharaannya meliputi pemupukan, pengendalian gulma, pemberantasan hama dan penyakit, penunasan dan kastrasi.

Pemanenan kelapa sawit dilakukan dengan cara memotong buah kelapa sawit dari batangnya dengan dodos atau egrek. Dodos digunakan untuk memanen pata tanaman yang berumur kurang dari 5 tahun atau pada tanaman yang tingginya 2-5 meter. Egrek digunakan untuk memanen tanaman dengan tinggi diatas 10 m, dengan alat arit bergagang panjang (egrek). Hasil panen yang didapatkan dikumpulkan di Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) untuk kemudian diangkut ke pabrik dengan menggunakan truk.

Pengolahan dilakukan di dua pabrik yang berbeda, untuk CPO diolah di Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PPKS) dan untuk PKO diolah di Pabrik Pengolahan Inti Sawit (PPIS). Pengolahan kelapa sawit diawali dengan penanganan bahan baku TBS meliputi penimbangan, sortasi, pengumpulan buah di Loading ramp dan pemasukan buah ke dalam lori. Proses selanjutnya adalah perebusan (sterilisasi), penebahan di threser, pelumatan di digester, penempaan di screw press, pengutipan minyak, pemurnian minyak (klarifikasi), dan penyimpanan minyak mentah (CPO atau Crude Palm Oil) di tangki timbun. Biji selanjutnya diolah di Pabrik Pengolahan Inti Sawit (PPIS) untuk mendapatkan minyak inti sawit (PKO atau Palm Kernel Oil).

Alat dan mesin sangat diperlukan untuk mendukung kelancaran pada proses budidaya dan pengolahan kelapa sawit di PTPN VII Unit Usaha Bekri. Dalam rangka mengoptimalkan penggunaan alat dan mesin, sangat diperlukan adanya manajemen yang baik. Manajemen operasi alat dan mesin pengolahan kelapa sawit ditujukan untuk mengoptimalkan produksi dan menekan kehilangan (loses) yang terjadi pada proses pengolahan.

Aliran proses terdiri dari dua line yang sejajar dengan kapasitas masing-masing 20 ton/ jam, dengan tujuan menghindari berhentinya produksi karena adanya kerusakan alat atau mesin di satu line.
Untuk menjada kelancaran produksi sangat diperlukan penjadwalan perawatan (maintenance) alat dan mesin. Perawatan secara umum dibagi menjadi tiga yaitu perawatan (pemeliharaan) rutin, Overhaul, dan perbaikan-perbaikan lain yang tidak terduga.


Kategori

%d blogger menyukai ini: