Oleh: Supriyanto Liwa | 12 Mei 2009

Aplikasi IT (Information Technology) di Bidang Pertanian Kaitannya dengan Akses Informasi

Penulis : Supriyanto (Alumnus Institut Pertanian Bogor)
Email : supriyanto_ipb@yahoo.com

Pertanian tidak lepas dari kegiatan bercocok tanam atau yang biasa disebut dengan istilah on farm, yang merupakan kegiatan pertanian pada bagian hulu. Budidaya merupakan proses menanam diikuti dengan kegiatan-kegiatan pemeliharaan, dan pada akhirnya menghasilkan hasil panen. Pada kegiatan budidaya para petani kita pada umumnya menggunakan pola-pola umum berdasarkan pengalaman yang mereka dapat selama mereka terjun di dunia pertanian, bahkan banyak diantara mereka yang sudah sejak lahir kenal dengan dunia pertanian.

Kenyataan bahwa pertanian merupakan sektor yang sangat tidak disukai oleh generasi muda tidak terelakkan lagi. Generasi muda saat ini lebih senang berprofesi sebagai buruh pabrik, atau pekerja-pekerja di perusahaan daripada bertani. Pemuda yang telah lulus SMA pada umumnya enggan untuk kembali ke kebun untuk menjadi petani. Sekolah-sekolah mengkampanyekan kepada para siswanya untuk tidak menjadi petani, karena petani itu kotor, identik dengan sawah, kebun, identik dengan kemiskinan, dan ketidakberdayaan. Sektor pertanian menjadi sektor yang hanya diminati oleh orang-orang tua yang tidak mungkin lagi bekrja di perusahaan.

Minimnya sekolah-sekolah pertanian juga mendorong para generasi muda untuk menjauhi pertanian. Swasembada beras yang digembor-gemborkan pemerintah hanyalah isapan jempol belaka, karena kita tidak pernah serius mengurus pertanian Negara kita. Swasembada beras hanya didasarkan pada data-data pada sentra-sentra produksi beras. Kita tidak menilik negeri ini secara keseluruhan. Kita musti banyak berbenah untuk memperbaiki negeri ini, umtuk menjadikan sektor pertanian menjadi sektor yang diidam-idamkan oleh kaum muda.

Seorang petani beras Organik di Cigombong, Bogor, Jawa Barat menyatakan pertanian baru dikatakan maju saat “Pemuda tani berdiri tegak di depan calon mertua”. Pernyataan yang perlu kita renungkan bersama, sebuah pernyataan tersirat bahwa pertanian belum bisa dibanggakan di Indonesia tercinta yang subur dan makmur ini.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan tersebut? Salah satu diantaranya adalah peningkatan kesadaran kepada petani tentang pentingnya informasi dan pengembagan di bidang pertanian. Sektor pertanian dapat menjadi sektor yang sangat menjanjikan, karenat terbukti sektor yang tidak terguncang oleh krisis ekonomi adalah sektor pertanian. Pertanian dan pangan akan tetap menjadi sektor yang sangat menjanjikan apabila kita dapat memanagenya dengan baik.

Teknologi-teknologi tepat guna dan ramah lingkungan perlu diadopsi oleh petani kita. Kendala dalam pemanfaatan teknologi di bidang pertanian adalah minimnya informasi dalam mengakses teknologi baru tersebut. Hal terebut menyadarkan kita bahwa ada poin yang sangat krusial yang menjadi permasalahn petani, yaitu “Informasi”. Berita-berita mengenai Pertanian di Televisi sangat jarang ditayangkan, sekalipun ditayangkan tidak banyak informasi yang didapatkan terlebih lagi jadwal penayangan yang tidak tepat. Sinetron yang berbalut kemewahan, berita politik yang sarat perebutan kekuasaan, entertainment para artis, dan berbagai suguhan yang secara mental tidak mendidik dan tentu saja tidak bermanfaat bagi petani. Surat kabar pun tidak banyak memberikan kontribusi bagi petani, content berita dan artikel yang dimuatpun tidak jauh berbeda dengan televisi. Seolah semua media membombardir kita, dan tidak berpihak pada pertanian, rakyat kecil dan moral bangsa ini yang semakin hari semakin carut marut.

Kesimpulannya adalah media-media yang ada saat ini sudah tidak mungkin digunakan untuk menyebarluaskan informasi mengenai Pertanian, Teknologi-teknologi penunjuang budidaya, teknologi pasca panen dan berbagai macam kegiatan pertanian yang tentu saja sangat dibutuhkan petani. Kapan pertanian akan menjadi primadona?

Perkembangan ICT (Information and Communication Technology) atau yang lebih dikenal dengan istilah Information Technology (IT) begitu cepat. Persaingan para vendor untuk meraih pasar menyebabkan harga-harga IT secara bertahap mengalami penurunan. Salah satu fasilitas IT yang sangat terkenal adalah Internet. Internet adalah jaringan yang terhubung satu sama lain, sehingga dapat bertukar informasi antar komponen. Internet sudah menjadi trend dan gaya hidup, sehingga internet menjadi media yang sangat efektif pada berbagai bidang untuk menyebarkan informasi.

Penyebaran informasi Pertanian tentu dapat memanfaatkan Internet karena saat ini sudah banyak fasilitas-fasilitas yang dapat digunakan untuk mengakses internet. Salah satunya adalah telepon seluler. Kenapa Telepon seluler? Jawabannya sederhana, karena barang yang satu ini sudah sangat umum dimiliki oleh petani, bahkan sampai ke pelosok tanah air. Teknologi 3 G dan 3.5 G memungkinkan akses data menjadi cepat dan murah.

Petani perlu memanfaatkan dengan optimal teknologi-teknologi alternatif tersebut sehingga mereka tidak ketinggalan informasi dan dapat mengembangkan pertaniannya. Informasi yang didapatkan dapat menjadi acuan pengembangan dalam budidaya maupun pengolahan pasca panen. Tentu saja hal yang kita harapkan adalah peningkatan produktivitas dan nilai tambah yang merupakan ciri pertanian modern dapat tercapai.
Keterlibatan dari penyedia informasi tentu sangat penting. Universitas-universitas, lembaga penelitian di bidang pertanian, LSM, dan pemerintah harus secara proaktif menyediakan layanan-layanan informasi melalui internet yang saat ini cukup murah dan terjangkau dai sisi penyedia informasi. Permasalahannya adalah kita harus bersama-sama saling melengkapi untuk memberikan yang terbaik bagi para petani kita, agar kesejahteraan mereka meningkat


Kategori

%d blogger menyukai ini: