Oleh: Supriyanto Liwa | 24 April 2018

Nomor Induk Dosen Nasional

Nomor Induk dosen nasional (NIDN) adalah nomor induk yang diberikan kepada dosen tetap di Indonesia. Dosen tetap disini bisa saja status kepegawaiannya:

  1. Dosen PNS Perguruan Tinggi Negeri
  2. Dosen Tetap Non PNS di Perguruan Tinggi Negeri
  3. Dosen PNS Kopertis
  4. Dosen Tetap Yayasan

 

Iklan
Oleh: Supriyanto Liwa | 22 April 2018

Dunia Dosen

Beberapa tahun terakhir saya terlibat di dunia belajar mengajar pada strata 1, permasalahan yang sering dihadapi program studi di Universitas Swasta dan beberapa Universitas negeri adalah kurangnya sumberdaya bergelar Master. Kemudian muncul peraturan DIKTI yang mensyaratkan dosen harus bergelar S2.

Maka banyak dosen yang berbondong-bondong melanjutkan ke Jenjang S2. Sampai saat ini baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menerima formasi S2. Selanjutnya menjadi tugas dosen ybs untuk mencari beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang S3. Namun tentu karena kompetisi sangat ketat, tidak semua dosen memiliki kesempatan mendapatan beasiswa S3.

Di lain pihak, melalui program LPDP, beasiswa unggulan, dan PMDSU pemerintah menggenjot jumlah WNI yang bergelar Master ataupun Doktor. Belum lagi teman-teman di berbagai negara yang sekolah dengan beasiswa negara tujuan. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kapasitas riset dan kemampuan riset untuk menelurkan output yang baik untuk kemudian kembali ke Indonesia untuk mengembangkan riset.

Sekolah itu ibarat ngambil SIM kendaraan, setelah SIM didapat, selanjutnya mulai mengendari kendaraan. Walaupun skill mengendari mercedes benz type terbaru tapi adanya mobil angkot, akhirnya walaupun terpaksa. Begitulah analogi orang Indonesia yang sekolah S3 dan melakukan riset di advance laboratory dan kembali ke Indonesia dengan fasilitas yang sangat minim. Biasa nyupir mercedez benz terus nyupir angkot, pasti ajrug-ajrugan. he he …

Ini bukan kisah saya, tapi kisah teman2 yang riset di advance sciences.

Beberapa hari kemudian semua netizen kaget saat viral berita tentang DIKTI yang akan impor dosen asing:
https://news.okezone.com/…/mengajar-di-indonesia-dosen-asin…
http://www.republika.co.id/…/p7h34l282-dosen-asing-dan-nasi…
http://republika.co.id/…/p7fa1c428-kemenristekdikti-anggark…

Pemerintah memberikan anggaran yang cukup besar untuk mendatangkan dosen asing itu. Ada beberapa hal yang saya tidak setuju:

  1. Ketidakadilan menilai dosen Indonesia. Output yang selama ini tidak baik disebabkan karena peralatan laboratorium yang banyak usang dan tidak bersaing. Walaupun ada juga dosen yang tidak berkualitas, tapi tidak bisa dipukul rata.
  2. Gaji yang diberikan juga ada gap sangat tinggi, ini membuat kita sebagai orang Indonesia menjadi terus merasa dibawah. Andai nanti datang dosen dari luar dibayar lebih besar dari Profesor yang bereputasi di Indonesia (adil kah?).
  3. Belum dioptimalkannya alumni-alumni dari program beasiswa yang dikeluarkan pemerintah untuk menjadi dosen.

Sehingga sebelum ada impor dosen asing maka ada hal mendesak yang perlu dilakukan:

  1. Perbaikan sarana laboratorium agar bisa mengeluarkan output berstandar Internasional.
  2. Optimalisasi alumni-alumni beasiswa dari pemerintah.
  3. Upgrading kesejahteraan dosen Indonesia agar nantinya bisa mendorong produktivitas.
  4. Membangun advance Laboratory di Universitas-Universitas yang diberi mandat khusus pengembangan keilmuan yang advance dan lintas disiplin. Disini para dosen dan peneliti bertugas membuat output yang baik lintas disiplin. Kita belajar saja dari negara-negara lain seperti apa advance laboratory itu dibangun dan dijalankan untuk mendapatkan output yang mumpuni.

Semoga pengambil kebijakan melihat kembali permasalahan yang ada dan mengambil keputusan yang baik. Kami anak-anak muda yang sedang sekolah di Luar negeri mengharapkan keberpihakan kepada peneliti-peneliti muda untuk kembali berbakti kepada negeri.

Semoga berita ini juga masih dalam bentuk rencana ataupun pemikiran yang masih bisa dirubah dan diarahkan ke arah yang lebih baik dan berkeadilan.

Salam,
Supriyanto
(Mahasiswa PhD University of Tsukba)

Oleh: Supriyanto Liwa | 11 April 2018

First-day School Yochien, Syafira

Hari ini adalah hari yang istimewa bagi kami, putri pertama kami berkesempatan masuk sekolah untuk pertama kalinya. Setelah menanti beberapa bulan akhirnya masuk sekolah juga. Sekolah syafira adalah sekolah Yochien (Kidegarten / TK Kecil) Azuma, atau kami biasa menyebutnya Azuma Yochien. Lokasinya berada dekat dengan Tsukuba Center.

2

Sebenarnya untuk siswa baru yang akan masuk sekolah ini dapat dikategorikan menjadi dua jenis: masuk dari awal atau masuk dari tengah-tengah. Untuk yang masuk dari tengah (tidak diawal tahun) karena pindah sekolah dari Indonesia ke Jepang maka proses pendaftarannya:

  1. Datang ke sekolah
  2. Mengisi formulir dan orientasi (ditemani oleh penerjemah atau teman yang bisa bahasa Jepang)
  3. Persiapan sekolah
  4. Langsung Masuk Sekolah

Sementara kami, karena memang masuk pada tahun ajaran baru maka proses yang kami lalui adalah sebagai berikut:

Konsultasi ke City Hall 

Karena kami tidak tahu sekolah mana dan bagaimana prosedur mendaftara TK (Yochien) maka kami ke City Office Tsukuba (Kantor Walikota) terlebih dahulu. Kita diminta datang ke bagian School Affair, intinya yang mengurusi sekolah-sekolah di kota Tsukuba. Tanya aja receptionist, mereka akan mengarahkan.

Nah, sampai di sini kita akan ditanya tinggal dimana? Usia anaknya berapa? Karena sekolah disini disesuaikan dengan umur anak. Mulai dari 0 tahun juga ada sekolah yang menerima. Kami sendiri masuk di Yochien (usia 4 tahun) dan sekolah mulai pukul 08.40 sampai 13.00. Jenis sekolah ini tidak cocok bagi orangtua yang sekolah (suami dan istri) atau salah satu sekolah dan yang lain bekerja. Kalau anda bekerja maka Hokuen (sekolah full day) yang mirip-mirip daycare yang cocok untuk anda. Silahkan baca-baca panduan yang diberikan di city hall ini untuk memahami secara detail.

Setelah dijelaskan oleh staff di City Office, kami diarahkan untuk datang ke Yochien. Pihak City Office mula-mula menelepon pihak sekolah untuk menanyakan kapan mulai pendaftaran anak. Untuk proses pendaftaran sendiri dilakukan disekolahan.

Mendaftar Tahap 1. 

Setelah mendapatkan keterngan yang lengkap dari City office Tsukuba maka kami mendatangi sekolah yang dimaksud pada tanggal yang sudah ditentukan. Pada saat datang pertama intinya kami memperkenalkan diri akan memasukkan anak kami disekolah. Kemudian pihak guru memberikan formulir pendaftaran dan syarat-syarat apa saja yang diperlukan. Saya tidak ingat semua syarat, tapi beberapa syarat utama diantaranya:

  1. Residence card (KTP) Jepang
  2. My Number dari City Hall
  3. Mengisi Formulir

Untuk bisa berkomunikasi saya mengajak om Janu untuk menerjemahkan. Setelah formulir kami dapat, mereka memberi waktu beberapa hari untuk mengisi dan mengirimkan kembali. Setelah itu mereka memberi pengumuman untuk tahapan verifikasi Lanjutan dan perkenalan sekolah.

Mendaftar Tahap 2. 

Sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, kami datang lagi untuk mendapatkan penjelasan mengenai program apa saja yang diselenggarakan di sekolah ini. Pada tahapan ini kita dijelaskan proses pembelajaran, diberi kesempatan melihat ruang kelas. Anak-anak juga sudah mencoba menjadi murid dan berkenalan dengan suasana kelas. Tentulah semua anak tampak gembira dan orang tua juga demikian.

Mendaftar Tahap 3. 

Tahapan selanjutnya adalah kita diundang lagi oleh sekolah untuk diperkenalkan kembali keadaan sekolah. Selain itu, pada tahapan ini kami mulai membeli peralatan, mengisi formulir dan menyelesaikan admistrasi (pembayaran) untuk sekolah. Saya lupa berapa biayanya. Tapi kemarin saya coba total kira-kira 20 ribuan yen termasuk membeli perlengkapan sekolah anak.

Masuk Sekolah 

Setelah perjalanan panjang pendaftaran itu, hari ini 11 April 2018 Allah berikan kesempatan anak kami untuk mencicipi sekolah hari pertamanya. Sehari sebelum sekolahpun semua sudah senang dan tampak antusias mempersiapkan keperluan anak. Maklum saja, sekolah di Yochien ini peralatan yang diperlukan banyak sekali diantaranya:

  1. Topi (ada dua jenis topi)
  2. Tas
  3. Baju Ganti
  4. Tempat Minum
  5. Sepatu Dalam
  6. Sepatu Luar
  7. Kaos Kaki
  8. Alat bersih-bersih
  9. Sikat gigi
  10. Alat makan
  11. Buku Gambar
  12. dan perintilan lain yang saya juga lupa he he

Semua peralatan itu diberi nama dengan menggunakan huruf Katakana dan dibawa kesekolah dalam bentuk gembolan.

1

Pergi kesekolah, dengan menggunakan Bus C10 dari Asrama Ichinoya menuju Tsukuba Center kemudian berjalan sedikit ke Yochien. Pagi ini kami memang datang agak pagi supaya tidak terlambat. Saat pintu dibuka oleh para guru sontak mereka mengatakan Ohaiyo Gozaimasu (selamat pagi)…

3

Selanjutnya 09.30 semua siswa dan orangtua murid diminta masuk ke dalam ruangan untuk meletakkan semua peralatan tadi di tempat yang sudah disediakan. Karena disekolah ini ada dua grade maka Syafira dapat grade TK kecil dan memiliki ruang kelas sendiri. Kemudian, karena akan diadakan welcoming ceremony maka anak-anak diminta untuk buang air kecil terlebih dahulu di toilet sekolah.

Setelah itu, semua anak diajak ke Hall untuk mengikuti welcoming ceremony. Suasana khidmad dan sederhana saya tangkap dari welcoming ceremony kali ini. Berikut kira-kira susunan acara welcoming ceremony:

  1. Pembukaan
  2. Sambutan dari Kepala Sekolah
  3. Sambutan dari Dinas Pendidikan
  4. Sambutan dari Parent and Teacher Association (PTA)
  5. Simulasi kelas
  6. Penutup
  7. Foto Bersama

Pada sambutan dari kepala sekolah, dinas dan perwakilan PTA sangat padat dan singkat. Saya sangat terkesan walaupun tidak bisa saya tangkap semua karena keterbasan bahasa. Intinya beliau mengucapkan selamat “Omodetou Gozaimasu” dan pesan-pesan untuk siswa dan wali murid.

Selanjutnya, pada sesi simulai kelas dua orang guru membawa papan peraga dan memperagakan simulai mengajar. Alat peraga sederhana sebenarnya, yaitu gambar yang dilengkapi magnet sehingga bisa menempel di papan tulis diikuti dengan piano dan bernyanyi. Murid-murid pun langsung mengikuti dan bernyanyi dengan para guru. Wah, saya jadi membayangkan betapa bahagianya kalau di Indonesia pada sekolah negeri juga seperti ini.

Setelah acara selesai, anak-anak dan orangtua kembali diajak ke ruang kelas anak-anak. Kemudian dijelaskan berbagai program kegiatan. Kami beruntung karena kebetulan guru TK kecil ada yang bisa berbahasa Inggris walaupun sedikit. Ya karena bahasa Inggris kami sama-sama tidak lancar jadilah komunikasinya jadi rileks dan santai.

Kelas hari inipun diakhiri dan meninggalkan kesan yang tak bisa dituliskan hanya dalam beberapa kalimat di Blog saya. Kamipun pulang kembali dan sempat makan di kampus di Kantin Marhaban bertiga. Saya, Istri dan anak tampak bahagia. Sekolah hari pertama yang menyenangkan. Semoga jadi awal yang baik bagi putri kami untuk menjadi generasi Sholehah dan Berpendidikan tinggi pada akhirnya nanti.

Akhirnya kepada Allah kami bersyukur dan kepada teman-teman yang membantu proses pendaftaran dan persiapan sekolah anak kami saya mengucapkan terima kasih. Khusus untuk om Janu, tante Rahmi Simamora, pakde Dhani Satria, dan Bude Oriza Sativa yang banyak membantu kami.

Tsukuba, 11 April 2018
Supriyanto
Email : debasupriyanto@apps.ipb.ac.id

Oleh: Supriyanto Liwa | 9 April 2018

Musim Semi, Kisah Hanamasha, Doho Park yang Mempesona

Semilir angin masih terasa dingin pagi kemarin walaupun sudah mulai masuk musim semi. Tadinya kami berencana ikut kegiatan di Masjid Tsukuba. Namun, akhirnya membatalkan kegiatan tersebut.

DEB_6859

Siang itu saya dan pak Rangga akhirnya mengunjungi Hanamasha dan Doho Park. Kali ini saya bergoncengan dengan putri saya (Syafira Tifania Azizah). Sepeda yang kami miliki adalah sepeda dilengkapi dengan goncengan anak di bagian depan dan belakang. Cukup aman, karena terkadang saat perjalanan agak jauh anak saya tidur di sepeda.

Rute perjalanan kali ini adalah: Asrama Ichinoya, menembus kampus Tsukuba, Amakubo, Tsukuba Center, Doho Park dan sampai di Hanamasha. Cukup jauh, sekitar 30 menitan menggunakan sepeda untuk sampai pada lokasi ini.

Hanamasha ini terhitung agak jauh dari Kampus University of Tsukuba. Toko ini menjual daging sapi segar yang halal. Tidak hanya daging, toko ini juga menyediakan buah-buahan, aneka produk ikan, dan berbagai keperluan rumah tangga lainnya.

Pulangnya, kami menyempatkan diri mampir ke Doho park dengan niatan ingin sholat asar di taman. Doho Park adalah sebuah taman yang ada di sebelah selatan Tsukuba Center. Lokasi taman ini sendiri ada di dekat JAXA (Japan Aeroscape Agencies, Tsukuba). Berjajar pula lembaga-lembaga penelitian disekitar taman ini.

Saat kami datang, alhamdulillah disambut dengan mekarnya beberapa bunga yang di tanam. Selain itu ada puluhan bebek yang menghuni danau di taman ini menambah pesona. Ikan-ikan besar warna-warni juga tampak berenang cantik di dalam danau. Suasana pepohonan yang rindang juga menambah pesona taman ini. Mainan anak berupa prosotan, tempat bermain bola, dan berbagai wahana ramah anak juga tersedia di taman ini. Tempat minum dan toilet juga tersedia gratis dan cukup bersih.

Sekeliling danau dilengkapi dengan jogging track dengan panjang sekitar 1 km lebih. Jadi kalau kamu yang ingin menjaga kebugaran bisa lari berkeliling. Hal yang menarik, saat hari libur tiba mulai dari muda-mudi, orangtua, manula, anak-anak bisa menikmati taman ini gratis. Untuk muda-mudi tentu tempat ini cukuplah romantis, terdapat cafe menghadap ke taman yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai.

Tidak lupa menyempatkan untuk hunting foto bersama pak Rangga. Karena sudah menjelang magrib akhirnya kami pulang ke Asrama Ichinoya. Menyusuri sisi jalan raya (Higashi Odori) yang dilengkapi dengan jalur sepeda kami pun pulang. JAXA-Takezono-Tsukuba Center – Amakubo – Kampus Tsukuba – Ichinoya.

Demikian perjalanan kami kemarin (8 April 2019). Semoga memberikan kesan bagi para pembaca pengalaman sederhana ini. Jangan lupa kunjungi terus dan baca artikel-artikel lain yang menarik. Doakan saya agar terus bisa berbagi pengalaman mengenai banyak hal yang saya temui. Tentu, saya menunggu teman-teman untuk berbagi pengalaman pula.

Tsukuba, 09 April 2019
Supriyanto
email : debasupriyanto@apps.ipb.ac.id

 

Oleh: Supriyanto Liwa | 5 April 2018

Sakura yang Mempesona

Musim semi banyak dinanti oleh para wisatawan ataupun warga Jepang sendiri. Pesona yang sangat dinanti adalah Bunga sakura. Menarik karena bunga ini akan mekar dan memberikan pemandangan putih ataupun pink hanya dalam dua minggu saja. Banyak warga yang menikmati dengan duduk di bawah pohon untuk sekedar makan siang bersama atau yang dikenal dengan istilah hamani. Gambar berikut menunjukkan keceriaan kami menikmati hamani di Ueno Park. Saya dan keluarga menyempatkan untuk berlibur sehari kesana.

Bunga sakura sendiri juga dapat dinikmati di sekitaran kampus University of Tsukuba. Lokasinya juga ada di beberapa sudut yang ada disini. Beberapa pemandangan berikut adalah contoh bunga sakura yang ada diseputaran kampus.

Hari ini, 05 April 2018 saat tulisan ini dibuat bunga sakura sudah mulai berguguran. Sampai jumpa di musim sakura tahun depan, semoga Allah masih memberikan kesempatan kepada kami untuk menikmati indahnya pemandangan bunga sakura ini.

Salam,
Supriyanto
email : debasupriyanto@apps.ipb.ac.id

Tulisan ini akan membahas teknologi-teknologi Lowcost yang di usulkan oleh para peneliti dan telah dipublish pada jurnal Internasional bereputasi. Fokus bahasan kali ini mengenai Pengkuran Konsentrasi Microalgae di Lapangan. Sebenarnya terdapat banyak teknologi di lapangan yang biasa digunakan diantaranya yang paling sederhana dengan berat kering, Optical Density dengan spectrometer atau untuk skala laboratorium bisa menggunakan flow cytometry (cell counting). Kelemahan metode yang saat ini ada adalah tidak dapat digunakan secara realtime, sehingga diperlukan inovasi agar realtime. Saya akan coba mengulas beberapa publikasi secara singkat yang telah diterbitkan oleh beberapa peneliti. Yuk, kita ikuti ulasan berikut:

Paper 1. Low-cost optical sensor to automatically monitor and control biomass concentration in microalgal cultivation (2018)

Kali ini saya ingin membagikan update penelitian dengan menggunakan low cost technology untuk menyelesaikan sebuah masalah. Masalah yang diangkat adalah mahalnya teknologi yang digunakan untuk mengukur kepekatan (konsentrasi) dari microalgae pada sebuah open raceway pond atau Photobioreactors. Penulis Binh T. Nguyen dan Bruce E. Rittman mengusulkan “Low-cost optical sensor to automatically monitor and control biomass concentration in microalgal cultivation“. Penelitian ini menarik. dengan menggunakan Low cost technology macam Arduino dengan biaya kurang dari $250 atau sekitar Rp. 3.439.425. Papernya pun masih hangat diterbitkan tahun 2018, submitted 3 Agustus 2017, Revisi 6 Maret 2018, dan diterima 22 Maret 2018 dan bisa diakses sejak 27 Maret 2018. Gambar berikut adalah skema aplikasinya.

1-s2.0-S2211926417307683-fx1

Tekniknya, dia menggunakan sebuah pompa yang mengambil microalgae dari Open Raceway Pond atau Photobioreactor, yang dalam prototypenya menggunakan aquarium. Kemudian, ditengah-tengah aliran microalgae itu dipasang sensor Infrared dengan R2 0.95 dengan regresi linier dengan kurva negatif. Penelitian ini dikalibrasi dengan spectroscopy OD730.

Paper 2. Multi-Wavelength Based Optical Density Sensor for Autonomous Monitoring of Microalgae (2015)

Paper lain yang juga tidak kalah menarik adalah Multi-Wavelength Based Optical Density Sensor for Autonomous Monitoring of Microalgae yang ditulis oleh Jia, et al, 2015. Pada paper ini diperkenalkan pengukuran konsentrasi microalgae dengan Multi-Wavelength Based Optical Density Sensor. Pada paper ini perangkat terdiri dari lima komponen utama yaitu:

  1. Laser Diode Modul sebagai sumber cahaya
  2. Photodiodes sebagai detektor
  3. Driver circuit,
  4. Flow cell dan
  5. Rumah sensor

Pada paper ini ditemukan bahwa pengukuran Optical Density (OD) akurat pada panjang gelombang 650, 685 dan 780. Sensor ini mampu memonitor konsentrasi tanpa melakukan persiapan sampel seperti layaknya pengukuran Density dengan perangkat yang sudah ada.

od

Paper 3. Microalgae biomass quantification by digital image processing and RGB color analysis (2014)

Pada paper ini, penulis menggunakan citra RGB untuk melakukan menduga konsentrasi microalgae. Microalgae yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Chlorella vulgarisBotryococcus braunii, and Ettlia sp. Penelitian ini dilakukan dengan cara mencairkan algae kering pada berbagai konsentrasi (dry cell weight/DCW).

Pembahasan Umum 

Buat teman-teman yang menggeluti lowcost teknologi open hardware atau open software, low-cost technology, dan berbagai aplikasi murah lainnya mari terus bersemangat. Ini adalah contoh baik dimana low-cost technology memiliki tempat di Jurnal Internasional Bereputasi. Artinya sebagai bangsa Indonesia dimana dana riset tidaklah terlalu banyak, kita bisa mulai memikirkan aplikasi-aplikasi yang murah namun berdaya guna tinggi. Hal ini menjadi salah satu kelebihan tersendiri yang bisa kita optimalkan. Terlebih komunitas-komunitas yang menggeluti aplikasi ini sangatlah banyak di Indonesia. Tak tanggung-tanggung isinya juga anak-anak muda yang energinya masih sangat luar biasa. Semoga kedepan Indonesia berada pada jajaran teratas pengembangan science dan teknologi dunia.

Referensi

  1. Nguyen, B. T.; Rittmann, B. E. Low-cost optical sensor to automatically monitor and control biomass concentration in microalgal cultivation. Algal Res. 2018, 32, 101–106, doi:10.1016/j.algal.2018.03.013.
  2. Jia, F.; Kacira, M.; Ogden, K. L. Multi-wavelength based optical density sensor for autonomous monitoring of microalgae. Sensors (Switzerland) 2015, 15, 22234–22248, doi:10.3390/s150922234.
  3. Sarrafzadeh, M. H.; La, H. J.; Lee, J. Y.; Cho, D. H.; Shin, S. Y.; Kim, W. J.; Oh, H. M. Microalgae biomass quantification by digital image processing and RGB color analysis. J. Appl. Phycol. 2014.
  4. Sarrafzadeh, M. H.; La, H.-J.; Seo, S.-H.; Asgharnejad, H.; Oh, H.-M. Evaluation of various techniques for microalgal biomass quantification. J. Biotechnol. 2015, 216, 90–97, doi:10.1016/j.jbiotec.2015.10.010.

 

Oleh: Supriyanto Liwa | 16 Maret 2018

Smart Farming dalam rangka Menghadapi era Industri 4.0

Industri 4.0 merupakan nama yang digunakan untuk menyebut trend otomasi dan data exchange pada teknologi manufaktur. Industri 4.0 terdiri dari cyber physical system, internet of thing, cloud computing dan cognitive computing. Industri 4.0 merujuk pada revolusi industry keempat. Kalau kita lihat dari ilustrasi pada gambar berikut, dimana awal-awal era revolusi industri mekanisasi menggunakan engine sangat dominan. Kemudian pada generasi kedua, mass production, assembly line dan electricity. Selanjutnya pada generasi 3, computer dan automation sangat dominan. Pada generasi ke 4 ini, menambahkan fitur baru yaitu cyber physical system. Pada generasi ke 4 ini, Internet of Thing (IoT) kecerdasan buatan/Artificial intelligence (AI) dan data science (DS) sangatlah berperan.

Perkembangan industrialisasi ini jug tidak hanya pada sektor manufaktur. Sektor pertanian juga ikut berubah seiring dengan trend ini. Kemudian munculllah term pertanian cerdas (smart farming), precission farming (pertanian presisi) dan istilah-istilah yang merujuk pada indutri 4.0 ini. Pertanian cerdas sendiri adalah upaya penerapan Information and Communication Technology (ICT) pada bidang pertanian yang juga dikenal dengan green revolution 3.  Plant breeding dan revolusi genetika, dikombinasikan dengan pemanfaatan ICT pada bidang pertanian seperti precission equipment, the internet of things (IoT), sensors dan actuators, geo-positioning system, Big Data, Unmanned Aerial Vehicle (UAVs, dronses), robot dan lain sebagainya.

Smart farming sangat potensial untuk diterapkan dalam bidang pertanian baik dalam kegiatan budidaya, panen maupun pasca panen. Jika kita melihat dari sudut pandang petani, maka smart farming adalah penerapan teknologi yang dapat menambah nilai tambah. Dengan demikian, smart farming ini sangat terkait dengan hal-hal berikut:

  1. Management Information System (MIS), yang merupakan sistem untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan dan menyebarkan data dalam bentuk yang diperlukan untuk operasi dan fungsi.
  2. Precission Agriculture (PA), term ini lebih dekat kepada manajemen spasial dan temporal untuk meningkatkan keuntungan (economic return), yang diikuti dengan input dan pencegahan dampak lingkungan. Teknologi yang dominan digunakan adalah Global Positioning System (GPS).
  3. Agricultural Automation and Robotics, proses mengimplementasikan robotik, kontrol otomatik, kecerdasan buatan pada kegiatan pertanian, juga termasuk pemanfaatan farm bot dan lain-lain.

 

 

Oleh: Supriyanto Liwa | 1 Januari 2018

Pesantren Lintas Tahun (PELITA) Tsukuba 2017

Mendengar kata pesantren di negeri sakura tentulah menjadi hal yang sedikit asing, termasuk juga pesantren kilat. Maklum saja, karena kami disini adalah penduduk minoritas. Namun, kebaikan dan berkah dari Allah memberikan nuansa yang berbeda di Tsukuba. Kami diwarisi sebuah masjid (Tsukuba Masjid) yang telah dibangun lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Akhir tahun menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh warga Kanto (seputaran Tokyo). Ya, pesantren lintas tahun (PELITA) yang dilaksanakan oleh KMII Jepang bekerjasama dengan FKMIT (Forum keluarga mahasiswa Indonesia Tsukuba) dan BOT (Both of Trust) Masjid Tsukuba terlaksanalah acara ini.

_SPR0538

Kegiatan dilaksanakan Jumat-Sabtu-Minggu, 29-30-31 yang dihadiri oleh Ikhwan dan Akhwat (Laki-laki dan perempuan). Untuk laki-laki juga disertai itikaf di masjid dan sholat tahajjud berjamaan, untuk kaum perempuan menginap di apato warga muslim di Tsukuba. Suasana hangat, walaupun kami juga baru saling mengenal satu sama lain. Tapi karena berasal dari Indonesia dan sama-sama muslim pertemuan ini menjadi hangat.

Diawali dengan shalat jumat berjamaah dengan beberapa sesi materi utama yang disampaikan oleh Ust Abdullah Haidir Lc (dari Depok) dan beberapa ustadz dari Tokyo dan Tsukuba. Berikut adalah seri materi utama dari PELITA Tsukuba:

Hari pertama

Sesi 1:
Topik: “Tujuan Penciptaan Manusia”
Narasumber: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

Sesi 2
Topik: “Menjaga Ruhiyah dan Amal Shaleh”
Narasumber: Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

Hari Kedua

Sesi 3:
Topik: “Membina Rumah Tangga Islami”
Narasumber: Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

Sesi 4
Topik: “Mengelola Keuangan Secara Syariah”
Narasumber: Bapak Muhammad Rizky Prima Sakti

Sesi 5
Topik: “Sejarah dan Kejayaan Islam” (bagian 1)
Narasumber: Assoc.Prof. Dr. Yan Mulyana

Hari Ketiga

Sesi 6.
Topik: “Pelatihan Pengurusan Jenazah”
Narasumber: Ustadz Rohimi Ghufron, Lc.

Sesi 7
Topik: “Menjemput Husnul Khatimah”
Narasumber: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

Selain itu bagi anda yang terlewat sesi ini dapat menyaksikan video streaming yang dapat diakses melalui laman berikut:
https://www.facebook.com/pelitatsukuba/

Semoga tahun depan bisa berjumpa kembali dalam PELITA Tsukuba 2018 dan semoga dipenuhi keberkahan selama perjalanan kuliah, bekerja ataupun training di Jepang.

Salam,
Supriyanto
debasupriyanto@apps.ipb.ac.id

Older Posts »

Kategori

%d blogger menyukai ini: